SastraAngkatan 45, bentuk: Puisi. Karya: Chairil Anwar. Ini adalah salah satu puisi dari seorang maestro yaitu Chairil Anwar, dengan kata yang lugas, kaya makna, dan indah untuk difahami. Dari buku: Deru Campur Debu — Abstrak Penelitian ini mengkaji struktur lahir pada kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Cha iril Anwar. Adapun empat puisi yang di kaji yakni " Kepada Peminta-Minta ", " Sajak Putih ", " Senja Dimanaseseorang berhubungan dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan orang-orang di sekitar. Saat berdoa, seseorang harus membuka hati, pikiran, dan jiwa kepada Tuhan. Seperti yang tersirat dalam kalimat kepada pemeluk teguh, yang menggambarkan seseorang memiliki keyakinan bahwa Tuhan selalu bersamanya. Tuhanku _Dalam termangu _ Penyairangkatan 45 tersebut terkenal dengan berbagai karya puisinya yang menggunakan kiasan tajam dan makna mendalam. Puisi berjudul Aku merupakan karya dari Chairil Anwar yang paling terkenal hingga sekarang. seperti Deru Campur Debu (1949). Puisi berjudul "Aku" merupakan karya Chairil Anwar yang paling terkenal dan masih terkenang Sambilberjalan kau usap juga. Bersuara tiap kau melangkah Mengerang tiap kau memandang Menetes dari suasana kau datang Sembarang kau merebah. Mengganggu dalam mimpiku Menghempas aku di bumi keras Di bibirku terasa pedas Mengaum di telingaku Baik, baik, aku akan menghadap Dia Menyerahkan diri dan segala dosa Tapi jangan tentang lagi aku TzFlDw. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai medianya Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segla macam kehidupannya, maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan teori, ide, dan sistem berfikir, tetapi juga merupakan media untuk menampung ide, teori, atau sistem berfikir manusia. Sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha kebutuhan keindahan manusia. Disamping itu, sastra harus pula mampu menajadi wadah penyampaiaan ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan manusia. Dalam proses kreatif karya sastra, banyak unsur yang terlibat di dalamnya, seperti ilmu pengetahuan, wawasan, pemikiran, keyakinan, dan pengalaman fisik, serta unsur imajinasi pengarang. Unsur yang terakhir itu sangat memegang peranan penting dan memberi nilai lebih, bahkan menjadi nilai dari karya sastra. Karya sastra lahir dan bersumber dari pengalaman sastrawan sendiri, baik dalam bentuk pengalaman lahiriyah maupun pengalaman bathiniyah. Secara sadar atau tidak sadar, sastrawan mengungkapkan pengalaman tersebut ke dalam karyanya yang dimaksudkan sebagai konsumsi mental dan pikiran orang lain. Pada waktu karya sastra ditulis, ada orang lain dalam pikiran pengarang, dan setelah karya sastra ditulis orang lain itu tidak lain adalah pembaca. Dengan demikian, melalui karyanya, pengarang menghimbau dan mengajak pembaca untuk ikut mengalami dan mengajak pembaca untuk ikut mengalami dan merasakan pengalaman lahir atau batinnya yang pernah dialami dan dirasakannya. Karya sastra juga merupakan produk imajinasi pengarang, yaitu sebuah hasil proses pemikiran dan pengamatan intens pengarang terhadap kehidupan. Imajinai itu tidak muncul tanpa danya fakta yang dipikirkan. Puncak dari pemikiran memunculkan konsep yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya sastra. Sastra sebagai salah satu dunia ekspresi juga tidak terlepas dari proses pemikiran, artinya pola berfikir penulis atau pengarang akan menentukan pola dan corak karyanya. Dari sinilah bermula beragamnya karya dengan ciri khas tertentu, yang membedakan antara karya pengarang yang satu dengan pengarang yang lainnya. Tentu telah sering mendengar kata puisi, tetapi setiap kalidiminta untuk menjelaskan pengertian puisi, sering menjumpai kesulitan karena begitu banyak ragam puisi sehingga rumusan tentang pengertian puisi. Secara etimologi puisi berasal dari bahasa Yunani pocima “membuat’ atau poeisis, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poerty. Puisi diartikan membuat dan pembuatan, karena dalam puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia sendiri, yang memungkinkan berisi pesan atau gambaran suasana-suasan tertentu, baik fisik maupun batiniah Aminuddin, 2011134. Puisi mudah dijumpai di kolom sastra pada edisi hari Minggu pada surat kabar yang terdiri sebanyak 4-6 puisi. Terkadang pembaca susah memahami isi maksud yang pengarang sampaikan, namun ada pula yang bisa langung menebak maksud pengarang yang disampaikan melalui puisi tersebut. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh pembaca agar mengetahui makan yang tersimpan dalam puisi tersebut, salah satunya membacanya berulang-ulang, mencari unsur-unsur dasar dalam puisi unsur intrinsik, atau menggunakan teori atau pendekatan dalam mengkaji karya sastra. Bahasa yang terdapat dalam sebuah puisi terkadang terlalu susah dicari maknanya, karena bahasa dalam puisi bersifat ambigu dan homonitas, yangtentunya tidak dapat dilepaskan dengan sifatnya konotatif. Menurut Hudson dalam Aminuddin, 2011134 mengatakan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang mengungkapkan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisa yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukis. Semiotik atau studi tentang sistem lambang pada dasarnya merupakan lanjutan dari strukturalisme. Sebab itu semiotika sering juga disebut strukturalisme semiotik. Bagi semiotika teks sastra sebagai realitas yang dihadirkan di hadapan pembaca, di dalamnya pasti sudah ada potensi komunikatif Aminuddin, 2011124. Lambang kebahasaan dalam teks sastra, sebagai sesuatu yang hadir lewat motivasi subjektif pengarang, pemaknaan dengan demikian juga merujuk pada sesuatu yang lain di luar struktur yang terdapat dalam teks sastra itu sendiri. Unsur-unsur luar yang ditujukan itu akan mengacu berbagai fenomena yang kompleks. Oleh sebab itu, supaya pemahaman terhadapnya pun sangat beragam. Akan tetapi, sesuai dengan terdapatnya empat dimensi daalam teks sastra Aminuddin, 2011124. Karya sastra merupakan refleksi pemikiran, perasaan dan keinginan pengarang lewat bahasa. Bahasa itu sendiri tidak sembarang bahasa, melainkan bahasa khas. Yakni bahasa yang memuat tanda-tanda atau semiotik. Bahasa itu akan membentuk sistem ketandaan yang dinamakan semiotik dan ilmu yang mempelajari masalah ini adalah semilogi. Semilogi juga sering di sebut semiotika, artinya ilmu yang mempelajari tanda-tanda dalam karya sastra Endaraswara, 201163. Dalam membahas simbol pada puisi, biasanya membedakan antara simbol pribadi, penyair modern dengan simbolnya yang pernah dipakai pengarang-pengarang sebelumnya dan sudah diphami secara luas. Mula-mula simbolisme pribadi berkonotasi negatif, tetapi perasaan dan sikap terhadap simbol puitis selalu ambivalen. Sukar mencari lawan kata pribadi dalam konteks ini Konsep Semiotik merupakan hubungan antara petanda dan penanda, yang terdiri dari ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang menunjukan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara petanda dan penanda. Indeks adalah tanda yang menunjukan hubungan kausualitas sebab-akibat. Simbol adalah tanda yang menunjukan tidak adanya hubungan alamiyah antara penanda dan petanda bersifat arbiter Model struktural semiotik muncul akibat ketidakpuasan terhadap kajian struktural. Jika struktural sekadar menitikberatkan aspek instrinsik, semiotika tidak demikian halnya, karena pemahaman semiotik mempercayai bahwa karya sastra memiliki sistem sendiri. Itulah sebabnya muncul kajian strukturalisme semiotik, artinya penelitian yang menghubungkan aspek-aspek struktural dengan tanda-tanda. Tanda sekecil apa pun dalam pandangan semiotik tetap diperhatikan. Istilah semiotik sering digunakan bersama dengan istilah semilogi. Istilah pertama, merujuk pada sebuah disiplin sedangkan istilah kedua merefer pada ilmu tentangnya. Baik semiotik maupun semiologi sering digunakan bersama-sama tergantung di mana istilah itu populer Endraswara, 201164. Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti ini meneliti “Analisis Simbol dalam Kumpulan Puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar Kajian Semiotika Peirce”. Ruang Lingkup Masalah Ruang lingkup pada penelitian ini adalah sebagai berikut 1 simbol 2 tanda, 3 penanda, 4 ikonisitas 5 indeks. Batasan Masalah Agar penelitian tetap terfokus dan tidak melewati ruanglingkup masalah di atas amak perlu adanya batasan masalah. Adapun batasan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini di batasi pada analisis simbol. Rumusan Masalah Rumusan Masalah Umum Secara umum masalah penelitian ini adalah bagaimana Analisis Simbol pada Kumpulan Puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar Kajian Semiotika Peirce. Rumusan Masalah Khusus Agar permasalahan dalam penelitian ini menjadi jelas dan terarah perlu adanya perumusan masalah. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1 Bagaimana simbol cinta pada Tuhan dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar? 2 Bagaimana simbol cinta pada sesama dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar? 3 Bagaimana simbol cinta erotis dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar? Tujuan Penelitian Suatu penelitian dilakukan pasti mempunyai tujuan. Agar tujuan penelitian ini lebih terarah dan tidak menyimpang dari pembahasan, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut. Tujuan Khusus Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk memperoleh gambaran objektif tentang “Analisis Simbol dalam Kumpulan Puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar Kajian Semiotika Peirce”. Tujuan Umum Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh diskripsi objektif tentang 1 Mendeskripsikan simbol cinta pada Tuhan dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar 2 Mendeskripsikan simbol cinta pada sesama dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar 3 Mendeskripsikan simbol cinta erotis dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar Manfaat Penelitian Manfaat Teoretis Untuk menambah wawasan dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dalam mengapresiasi karya sastra khususnya puisi. Penelitian ini juga diharapkan mampu memberi sumbangan dalam teori sastra dan teori semiotik. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti Hasil penelitian ini dapat dijadikan pengalaman yang berharga dalam penulisan karya ilmiah dan sebagai bekal untuk mengadakan penelitian selanjutnya dimasa yang akan datang. b. Bagi pembaca Hasil penelitian ini dapat mengembangkan kepribadian, kepekaan, dan wawasan pemikiran yang berkenaan dengan analisis simbol agar daya tangkap persepsi dan penalaran mengenai lingkup semiotik. Definisi Operasional Untuk menghindari salah tafsir dan salah persepsi terhadap pokok-pokok masalah yang terdapat dalam penelitian ini maka perlu di jelaskan batasan istilah penting berikut 1. Puisi adalah puisi berasal dari bahasa Yunani; Poima yang berarti membuat, atau Poesis yang berarti pembuatan, sedangkan dalam bahasa inggris disebut Poem’ atau Poetry’. Puisi diartikan sebagai membuat atau pembuatan, karena pada dasarnya melalui puisi seorang telah mampu membuat dan menciptakan suatu dunia tersendiri berdasarkan hasil pemikiran dan daya imajinasinya yang di dalamnya berisi amanat atau pesan serta gambaran suasana-suasana tertentu, baik berupa fisik maupun batin seseorang. 2. Semiotika adalah sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. 3. Simbol-simbol adalah menandai suatu tanda sebagai simbol adalah arti gandanya atau intensional arti gandanya. Setiap struktur pengertian adalah suatu arti langsung primer, sekunder, figuratif yang tidak dapat dipahami selain lewat arti pertama. ============================================================================== BAB II KAJIAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu yang Relevan Suatu penelitian dapat mengacu pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam melakukan penelitian. Oleh sebab itu, tinjauan terhadap penelitian terdahulu sangat penting untuk mengetahui relevansinya. Penelitian Sayekti Handayani 2005 yang berjudul "Aspek Moral dalam Novel Biru Karya Fira Basuki Tinjauan Semiotik" mengungkapkan, berdasarkan analisis semiotik terhadap novel Biru, ditemukan bahwa 1 Aspek agama sebagai penentram batin yaitu tindakan yang dilakukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Sang Pencipta, 2 Aspek kepedulian terhadap lingkungan yaitu suatu tindakan peduli dalam pencemaran lingkungan, 3 Aspek korupsi dan memperkaya diri yaitu tindakan yang dilakukan bukan hanya karena alasan minimnya ekonomi, tetapi sudah merupakan suatu kebudayaan khususnya di Indonesia, 4 Aspek perselingkuhan yaitu alasan perselingkuhan salah satunya adalah tidak ada kecocokan antara keduanya, 5 Aspek pelecehan seksual yaitu pelecehan terhadap perempuan yang tidak hanya terbatas pada gerakan fisik, tetapi sudah mengarah pada tindakan kriminal yaitu perkosaan, 6 Aspek pergaulan bebas yaitu ada pergaulan tanpa batasan yang dilakukan sebagian anak muda dan salah satu penyebabnya adalah pengaruh lingkungan dan longgarnya moral agama dan efek sosial di kalangan anak muda. Adapun persamaan dari penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Penelitian Sayekti Handayani 2005 terletak pada tinjaunnya yaitu sama-sama menggunkan kajian semiotik, sedangkan letak perbedaanya pada objek yang di teliti, kalaua penelitan yang dilakukan oleh Penelitian Sayekti Handayani 2005 menggunakan novel sedangkan penelitian ini menggunakan puisi sebagai objek penelitian. Penelitian Evriana Lestyarini 2005 yang berjudul "Aspek Moral Novel Orang-orang Proyek Karya Ahmad Tohari Tinjauan Semiotik". Lestyarini mengungkapkan aspek moral yang terdapat dalam novel Orang-orang Proyek antara lain 1 aspek penyalahgunaan kekuasaan digambarkan melalui tokoh insinyur Dalkijo yang melakukan korupsi pada proyek pembangunan jembatan sungai Cibawor, 2 aspek kenakalan remaja melalui tokoh Bejo dan beberapa temannya tergolong anak muda yang suka bermain judi dan minuman keras, 3 aspek kriminalitas dilukiskan melalui perilaku orang-orang kampung dan para pekerja proyek yang melakukan pencurianterhadap bahan bangunan secara terang-terangan, 4 aspek ketidakpastian dapat diketahui dari tindakan insiyur Dalkijo dianggap suka memaksa kehendak kepada orang lain, dan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya, 5 aspek keyakinan beragama tampak melalui tokoh insinyur Kabul yang taat beribadah sebagai umat beragama, 6 aspek kejujuran dilukiskan oleh tokoh insinyur Kabul memiliki pribadi yang jujur, lurus dan tidak mementingkan kepentingan sendiri, 7 aspek cinta kasih terhadap lawan jenis atau pria dan wanita digambarkan oleh Wati yang memiliki rasa cinta terhadap lawan jenisnya yaitu insinyur Kabul. Adapun persamaan dari penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian Evriana Lestyarini 2005 terletak pada tinjaunnya yaitu sama-sama menggunkan kajian semiotik, sedangkan letak perbedaanya pada objek yang di teliti, kalaua penelitan yang dilakukan oleh penelitian Evriana Lestyarini 2005 menggunakan novel sedangkan penelitian ini menggunakan puisi sebagai objek penelitian. Septefin Dyah Prabawani 2006 dalam penelitiannya yang berjudul "Aspek Moral dalam Cerita Banjaran Karna Versi Ki Nartosabdo Analisis Semiotik" mengungkapkan, berdasarkan analisis semiotik terdapat beberapa aspek moral dalam Cerita Banjaran Karna Versi Ki Nartosabdo, yakni aspek sikap ksatria bawalaksana sabdo pandeta ratu, aspek kesetiaan, aspek nasionalisme dan patriotisme. Aspek sikap ksatria bawalaksana sabdo pandeta ratu, dicerminkan sikap Karna pada saat ditemui Prabu Kresna tentang keberpihakkannya apabila terjadi perang Bhatarayudha, Karna menjawab dengan tegas akan tetap memihak pada Kurawa, bahkan berharap Bharatayudha harus terjadi. Dalam aspek kesetiaan digambarkan sikap Karna dalam menjunjung tinggi aturan atau hukum. Aspek nasionalisme dan patriotisme yaitu pada sikap lahiriah Karna tanpa ragu-ragu untuk tetap memihak dan menyatu dengan para Kurawa, meskipun batinnya tetap memihak Pandawa. Adapun persamaan dari penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian Septefin Dyah Prabawani 2006 terletak pada tinjaunnya yaitu sama-sama menggunkan kajian semiotik, sedangkan letak perbedaanya pada objek yang di teliti, kalaua penelitan yang dilakukan oleh penelitian Septefin Dyah Prabawani 2006 menggunakan novel sedangkan penelitian ini menggunakan puisi sebagai objek penelitian Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Ariyanto dan Abdul Kosim 2006 dengan judul “Kritik Sosial dalam Karikatur Harian Umum Solopos edisi bulan Januari-Maret 2007 Tinjauan Semiotik” . Ariyanto dan Abdul Kosim dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa nilai krisis kepercayaan terhadap sistem penerbangan di tanah air mengandung gagasan berupa ketidakpercayaan masyarakat terhadap jasa penerbangan pesawat Adam Air. Nilai krisis kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah mengandung gagasan berupa ketidakpercayaan rakyat terhadap program Gerakan Rakyat Menanam, kebijakan pemerintah yang tidak merakyat, ketidakefektifan program Askeskin. Nilai krisis sosialisme memiliki beberapa gagasan yaitu keegoisan pejabat DPRD, keegoisan pejabat pemerintah, keegoisan aparat kepolisian, keegoisan pejabat DPR. Adapun, nilai koboi-isme mengandung gagasan berupa perilaku liar seorang polisi. Adapun persamaan dari penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian Abdul Kosim 2006 terletak pada tinjaunnya yaitu sama-sama menggunkan kajian semiotik, sedangkan letak perbedaanya pada objek yang di teliti, kalaua penelitan yang dilakukan oleh penelitian Abdul Kosim 2006 menggunakan novel sedangkan penelitian ini menggunakan puisi sebagai objek penelitian. Struktur religiusitas kumpulan puisi “Deru Campur Debu” kanya Chairil Anwar oleh Ratnawati, Dalam penelitian tersebut dijelaskan secara dominan karya-karya sastra mengungkap aspek religiusitas secara langsung religiusitas otentik. Lebih detail dijelaskan bahwa religiusitas otentik yang terdapat dalam sastra tersebut tercermin dalam lima sikap yaitu rela, menerima, sabar, hormat dan rukun. Hukum agama yang digunakan dalam karya sastra tersebut adalah hukum agama Islam. Perbedaan dengan peneltian yang akan dilakukan terletak pada kajian dan judul yang di ambil masing-masing peneliti, sedangkan persamaan terletak pada judul puisi yang di ambil yaitu “Deru Campur Debu” kanya Chairil Anwar. Landasan Teori Pengertian Puisi Ada tiga bentuk karya sastra, yaitu; prosa, puisi, dan drama. Puisi adalah karya sastra tertulis yang paling awal ditulis manusia. Karya –karya sastra lama yang berbentuk puisi misalnya; Mahabrata dan Ramayana. Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani; Poima yang berarti membuat, atau Poesis yang berarti pembuatan, sedangkan dalam bahasa inggris disebut Poem’ atau Poetry’. Puisi diartikan sebagai membuat atau pembuatan, karena pada dasarnya melalui puisi seorang telah mampu membuat dan menciptakan suatu dunia tersendiri berdasarkan hasil pemikiran dan daya imajinasinya yang di dalamnya berisi amanat atau pesan serta gambaran suasana-suasana tertentu, baik berupa fisik maupun batin seseorang Aminuddin, 1987134. Istilah puisi bukan suatu yang asing, namun untuk menjelaskan pengertian puisi seringkali mengalami kesulitan karena beragamnya bentuk puisi sehingga rumusan-rumusan pengertian puisi berbeda pula. Antar penyair yang satu dengan penyair yang lainnya mempunyai dasar pengertian yang berbeda tentang puisi. Rumusan pengertian puisi yang diberikan akan tidak sesuai jika diterapkan pada bentuk puisi yang berbeda. Dari hal itulah maka pendefinisian puisi sangat beragam bergantung pada sisi mana pengertian itu diberikan dan kedalaman pemahaman seseorang tentangnya. Walaupun sampai sekarang tidak dapat dijumpai pengertian puisi yang tepat untuk semua bentuk dan jenis puisi, kita dapat memakai ciri-ciri yang dimiliki oleh puisi. Beberapa tokoh memberikan penegtian puisi sangat beragam. Wiryosoedarmo mengatakan puisi sebagai karangan yang terikat oleh banyaknya baris dalam tiap bait, banyaknya kata dalam suku kata dalam tiap baris, rima dalam irama Pradopo, 20025. Hudson mengutip Mc Caulay memberikan pengertian puisi sebagai salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampainya untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, yaitu dengan kata-kata yang indah, penataan unsure bunyinya mampu mengungkap gagasan, angan-angan atau imajinasi serta ilusi tentang keindahan ketika membaca puisi tersebut 1987134. Waluyo 198725 memberikan pengetian puisi bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan persaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Ahmad 19783 mengumppulkan pendapat dari beberapa penyair romantik inggris dengan melihat unsure-unsur puisi yaituy; emosi, imajinasi, pemikiran, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan dan perasaan yang bercampur baur, menyimpulkan bahwa puisi sebagai proses ekspresi pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Pradopo 20026 memberikan pengertian puisi merupakan rekaman dan interpretasi mpengalaman manusia yang penting kemudian diekspresikan dalam wujud yang paling berkesan. Puisi dapat dikenali dari struktur lahir dan struktur batinnya. Memperhatikan struktur lahirnya, Mulyana mengatakan puisi merupakan bentuk kesusasteraan yang menggunakan pengulangan suara sebagai ciri khasnya, yang menghasilkna rima , ritma dan musikalitas. Sedangkan Reeves menyatakan puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh dengan daya pikat, sedang Samson lebih melihat puisi sebagai bentuk pengucapan bahasa yang ritmis yang mengungkapkan pengalaman intelektual yang bersifat imajinatif dan emosional Waluyo, 198723. Dilihat dari struktur batin puisi, Waluyo 198723 mengumpulkan pendapat para tokoh mengenai puisi antara lain; Puisi adalah bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan Spenser, atau peluapan yang spontan dari perasaan yang penuh daya yang berpangkal dari emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian Johnson, ungkapan perasaan, pikiran dan emosional pengarang yang diwujudkan dalam bentuk keindahan. Waluyo pada satu kesimpulan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur lahir dan struktur batinnya 198725. Aminuddin 1987134 mengatakan bahwa pada dasarnya perumusan pengertian puisi tidak begitu penting, karena yang terpenting adalah bagaimana kita. Mampu menikmati puisi yang ada. Namun untuk sekedar pandangan agar kita tidak terlalu sulit untuk mendefinisikan puisi. Maka dapat disimpulkan dari beberapa tokoh mengenai pengertian puisi yang beragam, yaitu bahwa “Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikran dan perasaan penyair scara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan struktur fisik dan struktur batinnya yang ditampilkan dengan susunan terindah”. Teori Semiotika Peirce Semiotika merupakan istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti tanda’ atau sign dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Tanda-tanda adalah basis dari seluruh komunikasi. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Banyak hal bisa dikomunikasikan di dunia ini. Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut; “Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory, semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang di miliki ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia”. Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, ditengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan humanity memaknai hal-hal things. Memaknai to sinify dalam hal ini tidak dapat dicampur adukkan dengan mengkomunikasikan to communicate. Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Semiotika yang merupakan bidang studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja dikatakan juga semiologi. Dalam memahami studi tentang makna setidaknya terdapat tiga unsur utama yaitu tanda, acuan tanda, dan pengguna tanda. Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi indra kita. Tanda mengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri, dan bergantung pada pengenalan oleh penggunanya sehingga disebut tanda. Kajian semiotik merupakan kajian terhadap tanda-tanda secara sistematis yang terdapat dalam karya sastra termasuk novel. Ada dua hal yang berhubungan dengan tanda, yakni yang menandai atau penanda yang ditandai atau penanda. Hubungan antara tanda dengan acuan dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu Simbol yang ada tentunya sudah mendapat persetujuan antara pemakai tanda dengan acuannya. Misalnya, bahasa merupakan simbol yang paling lengkap, terbentuk secara konvensional, hubungan kata dengan artinya dan sebagainya. Ada tiga macam simbol yang dikenal, yakni 1 simbol pribadi, misalnya seseorang menangis bila mendengar sebuah lagu gembira karena lagu itu telah menjadi lambang pribadi ketika orang yang dicintainya meninggal dunia, 2 simbol pemufakatan, misalnya burung Garuda atau Pancasila, bintang= keutuhan, padi dan kapas= keadilan sosial, dan 3 simbol universal, misalnya bunga adalah lambang cinta, laut adalah lambang kehidupan yang dinamis. Teori Simbol Kata “simbol” yang berasal dari kata Yunani sumballo berarti menghubungkan atau mengabungkan. Simbol merupakan suatu tanda, tetapi tidak setiap tanda adalah simbol. Simbol yang berstruktur polisemik adalah ekspresi yang mengkomunikasikan banyak arti. Bagi Ricoeur, yang menandai suatu tanda sebagai simbol adalah arti gandanya atau intensional arti gandanya. Ricoeur merumuskan bahwa setiap struktur pengertian adalah suatu arti langsung primer, sekunder, figuratif yang tidak dapat dipahami selain lewat arti pertama. Ketika masyarakat majemuk berinteraksi dengan masyarakat lain yang berbeda budaya, maka tatkala proses komunikasi dilakukan, simbol-simbol verbal atau nonverbal secara tidak langsung dipergunakan dalam proses tersebut. Penggunaan simbol-simbol ini acapkali menghasilkan makna-makna yang berbeda dari pelaku komunikasi, walau tak jarang pemaknaan atas simbol akan menghasilkan arti yang sama, sesuai harapan pelaku komunikasi tersebut Ricoeur dalam Rosyidi, 2010159 mendefiniskan simbol sebagai struktur penanda yang di dalamnya terdapat sebuah makna langsung, pokok atau literer menunjukkan kepada makna tambahan, makna lain yang tidak langsung, sekunder dan figuratif yang dapat dipahami hanya melalui yag pertama. Pembebasan ekspresi dengan sebuah makna ganda ini mengatakan dengan tepat wilayah hermeneutik. Sedangkan Noth 200645 mengatakan bahwa simbol merupakan kategori atas tanda-tanda arbitrer dan konvensional “suatu simbol merupakan tanda yang mengacu pada objek yang digambarkan oleh suatu hukum, biasanya asosiasi ide-ide umum”. Menurut Morris dalam Noth, 200655 mengatakan bahwa simbol merupakan tanda yang dihasilkan oleh interpretasinya yang bertindak sebagai pengganti atas tanda lain yang yang dianggap sinonim semua tanda yang bukan simbol. Lain halnya dengan Hjelmslev dalam Noth, 200671 mendefinisiakan simbol sebagai entitas nonsemiotik yang bisa diintepretasikan dalam termonologinya, entitas monoplanar itu dengan isomorfi ekspresi. Simbol banyak digunakan dalam bidang humariora dalam pengertian yang luas simbol merupakan sinonim tanda Noth, 2006115. Menurut Whitehead dalam Noth, 2006115 mangatakan setiap tindak persepsi tidak langsung merupakan simbol. Ogned dan Richrd dalam Noth, 2006115 mendefinisikan simbol sebagai tanda yang digunakan dalam komunikasi manusia. Maka, simbol yang diartikan Pierce sebagai tanda yang mengacu pada objek itu sendiri, melibatkan tiga unsur mendasar dalam teori segi tiga makna simbol itu sendiri, satu rujukan atau lebih dan hubungan antara simbol dengan rujukan. Di sini dapat dilihat, bahwa hubungan antara simbol sebagai penanda dengan sesuatu yang ditandakan petanda sifatnya konfensional. Masyarakat pemakainya menafsirkan ciri hubungan antara simbol dengan objek yang diacu dan menafsirkan maknanya. Kajian simbol berjalan dengan dua kesulitan untuk masuk ke struktur gandanya, pertama, simbol memiliki bidang penelitian yang terlalu banyak dan terlalu beraneka ragam. Ke dua, konsep simbol melekat pada dua dimensi atau dua semesta wacana, yaitu suatu tatanan lingustik dan tatanan nonlingustik. Simbol limguistik dibuktikan oleh fakta bahwa simbol dibangun oleh simantik simbol yaitu teori yang menjelaskan struktur simbol berdasarkan makna signifikan Rosyidi, 2010159-160. Kompleksitas eksternal simbol ini dapat dijelaskan oleh teori metafora dengan tiga langkah 1. Mengindentifikasi benih semantik yang khas setiap simbol betapapun berbedanya masing-masing, berdasarkan struktur makna yang operatif dalam tuturan metaforis. 2. Berfungsinya metaforis bahasa akan membebaskan peneliti untuk memisahkan strata nonlinguistik simbol, penyebaran baru mengenai simbol ini akan menimbulkan perkembangan yang jauh dalam teori metafora yang jika tidak tersembunyi. Dengan cara ini, teori simbol akan mengizinkan peneliti untuk menyempurnakan teori metafora Ricoeur dalam Rosyidi, 2010153. Ciri makna semantik simbol diindentifikasi dengan melihat hubungan makna harfiah dengan figuratif dalam tuturan metaforis. Simbol dikaitkan dengan bahasa sebab simbol muncul jika ia di ujarkan, sedangkan metafora adalah pelaku ulang yang membahas aspek simbol Rosyidi, 2010160. Simbol tidak dapat hanya disikapi secara isolatif, terpisah dari hubungan asosiatifnya dengan simbol lainnya. Simbol berbeda dengan bunyi, simbol telah memiliki kesatuan bentuk dan juga makna. Maka, pada dasarnya simbol dapat dibedakan menjadi simbol-simbol universal, simbol kultural yang dilatarbelakangi oleh kebudayaan tertentu, dan simbol individual Teori metafora berguna mengungkapkan simbol sehingga metafora memahami pelanggaran semantik pada kalimat menjadi model untuk perluasan makna. Maka simbol sebenarnya bertentangan dengan makna. Dalam makna simbol tentu tidak ada dua makna, maka dua makna itu menjadi satu tingkatan gerakan yang memindahkan dari satu tingkat linguistik ke tingkat nonlinguistik yang keduanya berasimilasi menjadi makna yang dicari Ricoeur dalam Rosyidi, 2010161. Simbol tidak bisa diatasi secara tuntas oleh bahasa konseptual, ada lebih banyak simbol dari pada persamaan konseptualnya. Untuk mengindentifikasi sisi nonsemantik simbol dengan metode kontras, maka setuju menyebutnya semantik ciri-ciri simbol. 1. Memungkinkan analisis linguistik dan analisis logis logis berdasarkan makna interpretasi. 2. Mempunyai persamaan metafora yang sesuai. Oleh karena itu, sesuatu dalam simbol tidak sesuai dengan metafora karena kenyataannya ini menolak transkripsi linguistik, sematik, atau logis Ricoeur dalam Rosyidi, 2010161. Simbolisme hanya bekerja ketika struktur ditafsirkan. Hermeneutik minimal demi fungsinya simbolisme apa pun. Akan tetapi, penjabaran linguistik ini tidak menekankan pada apa yang disebut ketaatan pada simbolisme yang khas semesta suci. Penafsiran suatu simbolisme, bahkan, tidak dapat terjadi jika mediasinya tidak disahkan oleh hubungan langsung antara makna dalam hierofani itu di bawah pertimbangan. Kesucian dalam membuka dirinya dalam mengatakan dirinya sebagai simbol Ricoeur dalam Rosyidi, 2010162. Kata-kata yang memiliki berbagai bentuk makna, yang sifatnya tidak langsung dan kias, demikian dapat dipahami dengan simbol-simbol tersebut. Simbol dan interpretasi konsep yang mempunyai pluraritas makna yang terkandung di dalam simbol atau kata-kata di dalam bahasa. Setiap interpretasi adalah upaya untuk membongkar makna yang terselubung. Oleh sebab itu, “Hermeneutika bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut” Wachid 2008 26-27. Simbol Cinta pada Tuhan Dalam semua agama ateis, Tuhan adalah nilai tertinggi yang paling didambakan. Cinta Tuhan adalah karunia. Sikap religius yang benar adalah mempercayai karunia ini dan menghayati diri sebagai yang kecil dan tak berdaya. Karakter cinta Tuhan berkaitan erat dengan pentingnya unsur-unsur patriarkhal dan matriarkhal dalam sebuah agama. Dalam konteks partiarkhal, Tuhan itu adil dan tegas; Dia memberi hukuman dan pahala. Sedangkan dari segi martriakhal dalam agama, Tuhan mencintai dan merengkuh kita, tidak pandang bulu, seperti layaknya ibu; menolong, melindungi dan mengampuni. Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini ialah karena pemujaan kepada tuhan adalah inti, nilai dan makna kehidupan yang sebenarnya. Tuhan adalah pencipta, tetapi tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintahnya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memujanya. Karena itu jelaslah bagi kita semua, bahwa pemujaan kepada tuhan adalah bagian hidup manusia, karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri. Dan penciptaan semesta untuk manusia. Pemujaan-pemujaan itu sebenarnya karena manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhannya. Hal ini berarti manusia mohon ampun atas segala dosanya. Mohon perlindungan, mohon dilimpahkan kebijaksanaan, agar ditunjukkan jalan yang benar, mohon ditambahkan segala keinginan kita. Cinta Tuhan merupakan manifestasi dari hubungan manusia dengan yang ghaib, yaitu yang menciptakannya. Cinta Tuhan lahir dari keyakinan agamanya, dan akan Tuhannya yang menentukan segala kehidupannya. Cinta Tuhan juga merupakan manifestasi dari kesediaan makhluk untuk berbakti kepada-Nya. Cinta terhadap Sang Maha cinta merupakan klimaks dari pada cinta itu sendiri. Di ranah agama cinta identik dengan Tuhan, nilai tertinggi dalam ajaran agama adalah cinta terhadap Sang Maha cinta. Puncak cinta manusia yang paling bening, jernih, dan spritual ialah cinta kepada Tuhan. Semua cinta bersumber dari agama karena cinta terlahir dari Tuhan. Cinta Tuhan berasal dari kebutuhan dan mengatasi keterpisahan serta untuk meraih kesatuan Fromm, 2004112. Cinta kepada Tuhan bukanlah pengetahuan mengenai Tuhan dalam pikiran dan bukan juga pikiran tentang cinta terhadap Tuhan, melainkan tindakan mengalami kesatuan dengan Tuhan. Hal ini mengarah pada penekanan cara hidup yang tepat Fromm 2004136. Cinta Tuhan merupakan manifestasi dari hubungan manusia dengan yang ghaib, yaitu yang menciptakannya. Cinta Tuhan lahir dari keyakinan agamanya, dan akan Tuhannya yang menentukan segala kehidupannya. Cinta Tuhan juga merupakan manifestasi dari kesediaan makhluk untuk berbakti kepada-Nya. Cinta Tuhan adalah bentuk cinta yang berdimensi spiritual yaitu hakikat cinta Ilahi di mana kita akan menemukan kedamaian dalam hening yang abadi. Cinta Tuhan merupakan wujud kesempurnaan dari rasa cinta. Kita tidak hanya akan mendahulukan kepentingan objek yang kita cintai. Lebih dari itu, ketika kita telah mencapai tingkatan ini kita tidak akan lagi melihat diri kita sebagai sesuatu yang kita miliki, penyerahan secara penuh, sirnanya kepentingan pribadi. Kita merasa bahwa apapun yang kita miliki adalah milik objek yang dicintai. Simbol Cinta Sesama Cinta sahabat atau persaudaraan, adalah cinta yang paling dasar dan umum. Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain. Kehidupan kelompok, kebersamaan, interaksi sosial merupakan kebutuhan dasar dari individu. Untuk membentuk kehidupan bersama, kehidupan kelompok, dan interaksi sosial yang baik perlu didasari oleh rasa senang, rasa bersahabat, rasa cinta dari individu ke individu yang lainnya. Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa lepas dari saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain dalam melengkapi kekurangan dari masing-masing individu. Hal ini akan terealisasi apabila cinta terhadap sesama tertanam dalam kehidupan kita dalam menjalankan peran kita sebagai makhluk sosial. Menurut Fromm 200482. Cinta persaudaraan jenis cinta yang paling fundamental yang mendasari semua tipe cinta adalah cinta persaudaraan brotherly love. Yang saya maksudkan dalam kata ini adalah sebuah rasa tanggungjawab, perhatian, penghormatan serta pemahaman akan setiap manusia lain yang ingin kita majukan hidupnya Cinta sahabat atau persaudaraan, adalah cinta yang paling dasar dan umum. Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain. Kehidupan kelompok, kebersamaan, interaksi sosial merupakan kebutuhan dasar dari individu. Untuk membentuk kehidupan bersama, kehidupan kelompok, dan interaksi sosial yang baik perlu didasari oleh rasa senang, rasa bersahabat, rasa cinta dari individu ke individu yang lainnya. Fromm 200485 menyatakan cinta persaudraan merupakan cinta antara mahkluk sederajat, meski sesungguhnya kita semua juga selalu sederajat. Hal senada juga didukung oleh Sorokin Krich, 2009386 diranah sosial cinta adalah interaksi yang penuh makna antara dua orang atau lebih, tempat segala keinginan dan tujuan dari seseorang terbagi bersama dan tercapai dengan bantuan orang lain. Seorang pecinta tidak akan menghalang-halangi pencapaian dari orang yang dicintai, sebaliknya, ia akan menolong tidak akan menimbulkan rasa sakit atau kesedihan bagi orang yang dicintai. Simbol Cinta Erotis Cinta jenis ini mendambakan peleburan secara total, penyatuan dengan pribadi lain. Pada hakekatnya cinta erotis bersifat eksklusif dan tidak universal. Cinta inilah yang barangkali merupakan bentuk cinta yang paling tidak dipercaya. Cinta erotis sering dikaitkan dengan pengalaman eksplosif jatuh cinta; suatu keruntuhan tiba-tiba atas tembok pemisah yang ada di antara dua orang yang masih terasa masih asing satu sama lain. Kemudian pengalaman keintiman yang tiba-tiba ini pada dasarnya bersifat sementara. Kebanyakan orang mengatakan bahwa gagasan tentang cinta juga seringkali di samakan dengan keinginan seksual, sehingga mereka mudah terbawa pada kesimpulan yang salah bahwa mereka sedang mencintai orang lain. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah situasi dimana mereka saling menginginkan secara fisik. Bila keinginan untuk penyatuan fisik tidak dirangsang oleh cinta, maka cinta itu hanya membawa pada penyatuan yang bersifat orgiatis dan sementara. Cinta erotis apabila memang merupakan cinta, mempunyai satu premis yaitu bahwa saya benar-benar mencintai dari hakekat keberadaan saya dan menerima pribadi yang lain dalam hakikat keberadaan saya. Lebih jauh, mencintai seseorang bukan hanya melibatkan perasaan yang kuat saja, melainkan juga melibatkan suatu keputusan, suatu penilaian dan suatu perjanjian. Cinta erotik merupakan cinta antara jenis kelamin yang berbeda, antara pria dengan wanita. Cinta ini disebut cinta erotik karena mengandung dorongan-dorongan erotik atau seksual. Pada umumnya, perasaan cinta ini muncul dalam diri seseorang bersamaan dengan munculnya hormon seksual pada saat memasuki masa remaja awal. Jika perasaan cinta ini tidak terkendalikan dengan baik justru akan dapat menimbulkan berbagai bentuk penyimpangan perilaku seksual. Cinta yang sangat berbeda dengan kedua jenis cinta yang telah disebutkan adalah cinta erotis mendambakan sesuatu peleburan secara total,penyatuan dengan pribadi hakekatnya, cinta erotis bersifat eksklusif dan tidak universal Fromm,200493. Cinta erotis bersifat eksklusif, tetapi dalam mencintai pribadi yang lain dia juga mencintai sesama manusia, semua yang erotis bersifat eksklusif ketika ia hanya dapat meleburkan diri sepenuhnya dalam segala aspek kehidupan dan bukan dalam cinta persaudaraan. Cinta erotis,jika memang merupakan cinta, mempunyai satu premis yaitu saya benar-benar mencintai dari hakekat keberadaan saya dan menerima pribadi yang lain dalam hakekat keberadaan saya Fromm,200498. Cinta antara pasangan kekasih atau cinta antara suami dan istri adalah cinta yang terbentuk antara kedua pasangan tersebut. Pada pasangan yang telah dewasa, bila faktor-faktor emosional dan sosial telah dinilai siap,maka hubungan itu dapat dilanjutkan dengan membuat komitmen perkawinan. dalam perkawinan,diharapkan ketiga komponen ini tetap hadir dan sama kuatnya. Cinta pada dasarnya merupakan suatu kemauan, suatu keputusan untuk mengikat kehidupan dengan kehidupan orang ini memang merupakan dasar dari gagasan bahwa suatu ikatan pernikahan tidak boleh diputuskan seperti yang terjadi pada berbagai bentuk pernikahan tradisional dimana kadua mempelai tidak pernah memilih jodohnya sendiri tetapi telah dipilihkan oleh orang lain dan diharapkan mereka akan bisa saling mencintai dikemudian hari Fromm, 200498-99 Cinta adalah energi penghidupan bagai kehidupan sepasang suami istri. Pernikahan yang hanya didasari komitmen akan terasa kering karena baik suami maupun istri hanya menjalankan kewajiban saja. Variasi lain, perkawinan hanya dianggap sebagai lembaga yang mengesahkan hubungan semacam ini kehilanagn sifat persahabatnnya, yang ditandai dengan tidak adanya kemesraan suami istri, seperti makan bersama, berbincang-bincang, saling berpelukan dan sebagainya. ============================================================================ BAB III METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Dalam metode kualitatif memfokuskan perhatian pada data yang alamiah, data dalam hubungannya dengan konteks keberadaannya Ratna, 201047. . Sedangkan jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hal ini sejalan dengan pendapat Ratna 201046 yang mengemukakan bahwa penelitian deskriptif kualitatif ialah penelitian yang secara keseluruhan memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikan dalam bentuk deskripsi. Sumber Data dan Data Sumber Data Sumber data adalah subjek penelitian dari mana data diperoleh Arikunto, 2006129. Sumber data penelitian ini adalah Deru Campur Debu karya Chairil Anwar yang berupa kata-kata atau kalimat yang sesuai dengan rumusan masalah. Data Data dalam penelitian ini yang berwujud penggalan-penggalan kalimat, uraian kalimat serta paragraph yang mendukung atau mengacu pada rumusan dan tujuan penelitian mengenai simbol pada kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar. Metode dan Teknik Pengumpulan Data Metode Peneltian Metode yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah metode dokumentasi. Metode dokumentasi ialah cara pengumpulan bahan-bahan atau data-data yang diambil dari bahan pustaka, yaitu berupa Deru Campur Debu karya Chairil Anwar. Metode dokumentasi dalam penelitian ini dimaksud sebagai kegiatan dalam pengumpulan data penelitian. Teknik Pengumpulan Data Tekinik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah simak dan catat, yaitu teknik pengumpulan yang dilakukan dengan membaca secara cermat kemudian dicatat dalam bentuk kode tertentu untuk memudahkan pengambilan acuan pada data Straus dalam Mahsun, 200990-93. Metode simak adalah metode yang dilakukan dengan menyimak bahsa yang tiidak hanya pada bahasa lisan tetapi juga bahasa tulis. Tekinik lanjutan dari metode simak adalah tekinik sadap dan catat Mahsun, 200990-3. Akan tetapi, tekinik sadap tidak sesuai karena teknik ini dilakukan pada bahsa lisan. Praktisnya, puisi disimak untuk mengumpulkan data sesuai dengan masalah penelitian kemudian diklasifikasikan dan kemudian di beri kode untuk kemudian dianalisis. Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain 1 Membaca berulang-ulang kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar. 2 Menggaris bawahi kalimat yang menggambarkan tentang rumusan masalah kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar. 3 Menyeleksi kalimat-kalimat yang mengambarkan rumusan masalah kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen Pengumpulan data adalah memperoleh data tentang sesuatu dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah di tentukan dan sesuai dengan rumusan masalah Arikunto, 2006150. Maka instrumen pengumpulan data dijelaskan sebagai berikut. Tabel Instrumen Pengumpulan Data Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut nama-Mu Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Dihitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda. Metode dan Teknik Penganalisis Data Metode Penganalisisan Data Karena penelitian ini menggunakan dokumentasi, metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskriptif dilakukan dengan cara mendeskripsikan isi atau fakta-fakta yang kemudian dilanjutkan dengan analisis Ratna, 201053. Metode deskriptif digunakan untuk menjelaskan hasil analisis secara rinci, dan menafsirkan data yang sesuai dengan permaslahan dalam landasan teori yang dipaparkan. Teknik Penganalisisan Data Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis isi content analysis. Analisis isi adlaah teknik penelitian untuk keperluan mendeskripsikan secara objektif, sistematis, dan kualitatif tentang analisis simbol dalam kumnpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar. Prosedur Penganalisisan Data Sedangkan prosedur penganalisisan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1. Mengumpulkan data. Mengambil data yang berupa penggalan-penggalan bait puisi pada kumpulan puisi Deru Campur Debu karya Chairil Anwar yang menunjukkan rumusan masalah. Data yang berhasil dikumpulkan. Selanjutnya dikelompokkan berdasarkanb rumusan masalah penelitian. 2. Mengklasifikasi Data Setelah data terkumpul, maka langkah analisis selanjutnya adalah mengklasifikasi data. Klasifikasi dilakukan dengan cara mengelompokkan data-data yang sesuai dengan rumusan yang kemudian diberi kode. 3. Pengkodean Data. Data-data yang sudah dikelompokkan kemudian diberi kode sesuai dengan data yang diperoleh dan rumusan. Berikut contoh pengkodean 01/R1/01/ Keterangan 01 Nomor urut data R1 Rumusan 1 01 Halaman Pengkodean data dilakukan dengan uraian sebagai berikut Tabel pengkodean Data Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut nama-Mu Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Dihitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda. 4. Menginterprestasikan Data. Data yang sudah diinterprestasikan kemudian dideskripsikan dengan menggunkan teori dan konsep yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan tujuan penelitian. 5. Mendeskripsikan Data Setelah data dikumpulkan dalam korpus data kemudian dideskripsikan berdasarkan rumusan yang sesuai dengan teoori yang digunakan dalam penelitian. 6. Membuat Simpulan. Membuat simpulan berdasarkan hasil temuan pada analisis data beserta saran penelitian sehingga diperoleh garis besar dari keseluruhan kegiatan penelitian yang dilakukan. Instrumen Penganalisisan Data Instrumen Penganalisisan data menurut Suharsimi Arikunto 2010134 instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya ini dijelaskan sebagai berikut Tabel Instruumen Pengumpulan Data Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut nama-Mu kegoyahan imannya kepada Tuhan, termangu, isi masih menyebut nama Tuhan dalam doa-doanya. Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan kekhawatirannya terhadap sahabatnya mendorongnya untuk menghiburnya dan memberikan dukungan mental. Rasa empati yang dimilikinya terhadap sesama adalah bentuk kecintaannya terhadap sesama. Dihitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda. penggambaran kemampuan cinta cinta erotis dalam menundukkan keegoan individu dan meleburkan dua pemahaman yang berbeda dalam ikatan cinta kasih. ArticlePDF AvailableAbstractPenelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang bentuk citraan dan majas dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik analisis isi. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan teknik analisis data dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan/verifikasi. Data dalam penelitian ini berupa citraan dan majas dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar . Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar terdapat beragam citraan dan majas yang cukup bervariasi. Citraan yang digunakan pengarang dapat menciptakan imajinasi yang lebih hidup. Citraan yang terdapat pada kumpulan puisi tersebut yaitu citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pengecapan serta majas ada personifikasi,metafora,hiperbola dan alegori. Adapun puisi yang dianalisis antara lain “Kawan ku dan Aku”, “Sajak Putih”, dan “Nocturno”. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 41 ANALISIS MAJAS DAN CITRAAN PADA KUMPULAN PUISI DERU CAMPUR DEBU Mega Rebeca Gita, Achmad Yuhdi Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan e-mail gitapanjaitan08 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang bentuk citraan dan majas dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik analisis isi. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan teknik analisis data dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan/verifikasi. Data dalam penelitian ini berupa citraan dan majas dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar . Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kumpulan puisi Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar terdapat beragam citraan dan majas yang cukup bervariasi. Citraan yang digunakan pengarang dapat menciptakan imajinasi yang lebih hidup. Citraan yang terdapat pada kumpulan puisi tersebut yaitu citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pengecapan serta majas ada personifikasi,metafora,hiperbola dan alegori. Adapun puisi yang dianalisis antara lain “Kawan ku dan Aku”, “Sajak Putih”, dan “Nocturno”. Katakunci Majas, Citraan, Puisi Abstract This study aims to provide an understanding of the form of imagery and figure of speech in the collection of poetry Deru Campur Debu by Chairil Anwar. This study uses a descriptive method with content analysis techniques. The data collection technique uses documentation and data analysis techniques with the following steps data reduction, data presentation and drawing conclusions/verification. The data in this study are images and figures of speech in the collection of poetry Deru Campur Debu by Chairil Anwar. The results of the research show that in the collection of poetry Deru Campur Debu by Chairil Anwar there are various images and figures of speech that are quite varied. The imagery used by the author can create a more vivid imagination. The images contained in the poetry collection are visual imagery, auditory imagery, motion imagery, tactile imagery, olfactory imagery, tasting imagery and figure of speech with personification, metaphor, hyperbole and allegory. The poems analyzed included “My friends and I”, “White Poems”, and “Nocturno”. Keywords Figure of Speech, Imagery, Poetry PENDAHULUANKarya sastra tercipta karena adanya inisiatif pengarang dalam menciptakan karya dalam bentuk ide dan gagasan yang kreatif. Ide dan gagasan kreatif tersebut tercipta bukan hanya dari imajinatif pengarang tetapi juga pengetahuan yang dimiliki pengarang. Pengarang menciptakan karya sastra dari media bahasa yang diambil dari gambaran-gambaran hidup manusia, baik itu pengalaman pengarang sendiri maupun pengalaman orang lain. Dengan demikian karya sastra yaitu karya yang tercipta dari ide kreatif pengarang yang menggambarkan tentang kehidupan dengan menggunakan media bahasa. Satu di antara bentuk karya sastra adalah puisi. Puisi termasuk karya sastra yang memiliki nilai keindahan yang dihasilkan dari ide kreatif pengarang. Pada penelitian ini, peneliti mengambil objek buku Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 42 kumpulan puisi berjudul “Deru Campur Debu” yang telah dipublikasikan dalam buku antologi yang dibuat oleh Dian Rakyat. Berdasarkan paparan diatas, peneliti memberi judul penelitian ini, yaitu “Analisis Majas dan Citraan Pada Kumpulan Puisi Deru Campur Debu ” Permasalahan citraan pada hakikatnya tidak bisa terlepas dari permasalahan pemilihan kata diksi. Dengan adanya diksi atau pilihan kata yang tepat tentu akan menimbulkan daya khayal pembaca terhadap suatu hal yang sedang dibacanya. Namun sebaliknya, penggunaan diksi yang tidak tepat tidak akan dapat membuat pembaca berimajinas seoah-olah merasakan apa yang dirasakan penyair, karena pada umumnya citraan dalam puisi digunakan penyair untuk memperkuat gambaran pemikiran pembaca, Citraan terdiri atas tujuh jenis yakni citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan gerak, citraan pengecapan. dan citraan pemikiran. Maman S. Mahayana 2005 sastra sering juga ditempatkan sebagai potret sosial. Ia mengungkapkan kondisi masyarakat pada masa tertentu. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial Damono, 1979 1. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat; antara masyarakat dengan orang-seorang, antara manusia, dan antara peristiwa yang terjadi dalam batin seseoranTujuan penelitian dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan majas dan citraan yang terdapat dalam buku kumpulan puisi deru campur debu karya Chairil Anwar. Sering sekali kita hanya membaca sebuah puisi untuk melatih bagaimana cara pembacaannya yang baik dan benar namun tidak mengetahui terlebih dahulu makna puisi tersebut dan citraan yang terkandung didalam. Tanpa disadari ketika tahu makna dari puisi dan citraannya kita akan menjadi lebih baik dalam pembacaannya karena sudah tahu artinya, Oleh karena peneliti membuat sebuah penelitian dari kumpulan puisi Chairil Anwar karena diksi yang terdapat dalam puisi-puisinya sangat jarang didengar orang awam pada umumnya sehingga saya berinisiatif untuk menganalisisnya agar pembaca juga memahami majas dan citraan dalam puisi-puisi karya Chairil Anwar. Nurgiyantoro 2005346 mengungkapkan bahwa penggunaan citraan dalam puisi danteks kesusastraan secara umum berkaitan dengan tujuan memberikan gambaran secara konkret, walau tetap hanya secara imajinatif kepada pembacanya. Teori yang dibuat oleh Nurgiyantoro inilah yang saya terapkan didalam penelitian ini karena pada umumnya puisi dengan kata-kata yang jarang terdengar membarika gambara konkret sehingga saya menganalisis majas dan citraan yang terkandung didalam puisi. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sugiyono 2013, hlm. 15 Sehingga di penelitian ini peneliti menganalisis secara langsung dari buku kumpulan puisi Chairil Anwar berjudul “Chairil Anwar”. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik studi pustaka, yaitu menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Sumber-sumber tertulis yang dimaksud dapat berupa sumber buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penganalisisan data penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Membaca puisi yang akan dianalisis yaitu berjudul “Kawanku dan Aku”, “Sajak Putih” dan “Nocturno”. 2. Mengidentifikasi larik puisi yang diduga terdapat majas dan unsur citraan Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 43 3. Mencatat setiap larik puisi yang mengandung konsep majas dan kajian citraan 4. Menentukan jenis majas dan unsur citraan pada larik-larik puisi yang telah diidentifikasi 5. Mengklasifikasi majas dan citraan yang terdapat dalam puisi yang telah dipublikasikan dalam kumpulan puisi berjudul “Deru Campur Debu” 6. Menganalisis majas dan citraan yang terdapat dalam puisi yang telah dipublikasikan dalam kumpulan puisi berjudul “Deru Campur Debu” 7. Menarik kesimpulan. PEMBAHASAN DAN HASIL 1. Kawanku dan Aku Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan Darahku mengentat pekat Aku tumpat pedat Siapa berkata-kata.....? Kawanku hanya rangka saja Karma dera mengelucak tenaga Dia bertanya jam berapa? Sudah larut sekali Hilang tenggelam segala makna Dan gerak tak punya arti Tabel 1 Analisis pada puisi Kawanku dan Aku a. Majas Kata-kata bermajas yang terdapat dalam puisi ini yaitu pada kutipan “ Kami sama pejalan larut Menembus kabut Hujan mengucur badan Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan” Penggalan larik puisi tersebut mengandung majas hiperbola yang berarti 2 orang sahabat yang sama-sama berjuang hingga larut malam untuk belajar hingga keringat bercucuran pun mereka tempuh walaupun terkadang ide-ide tidak selalu lancar. Kutipan larik lainnya dalam puisi ini yang mengandung majas ialah “Darahku mengentat pekat Aku tumpat pedat” Makna yang terkandung dalam larik tersebut ialah usaha yang sungguh-sungguh dalam pencapaian pembelajaran. b. Citraan - citraan pendengaran Siapa berkata-kata.....? - citraan perabaan  Dan gerak tak punya arti - citraan gerak  Darahku mengentat pekat, Aku tumpat pedat - citraan pengecapan  Kawanku hanya rangka saja karma dera mengelucak tenaga - citraan pemikiran  Dia bertanya jam berapa? Sudah larut sekali Hilang tenggelam segala makna 2. Sajak Putih Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Dihitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi. Malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolam jiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mangalir dari luka Antara kita mati datang tidak membelah ........ Tabel 2 Analisis pada puisi Sajak Putih Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 44 a. Majas Pada puisi Chairi Anwar berjudul “Sajak Putih” terdapat beberapa kalimat bermajas antara lain - Tari warna pelangi Merupakan majas metafora artinya, banyak macam hal-hal yang datang dalam kehidupan. - Bertudung sutra senja  Merupakan majas personifikasi artinya, wanita menggunakan jilbab berwarna lembut atau gelap. - Dihitam matamu kembang mawar dan melati Merupakan majas alegori artinya, dalam bolamata yang berbinar indah. - Dalam dadaku memerdu lagu  Merupakan majas personifikasi artinya, didalam batin menyanyikan sebuah lagu. - Menarik menari seluruh aku  Merupakan majas metafora artinya, meyakinkan diri akan suatu hal. b. Citraan - citraan pendengaran Dan dalam dadaku memerdu lagu - citraan perabaan  Menarik menari seluruh aku. - citraan gerak  Menarik menari seluruh aku - citraan pemikiran  Selama kau darah mangalir dari luka, Antara kita mati datang tidak membelah - citraan penglihatan  Selama matamu bagiku menengadah 3. Nocturno Aku menyeru tapi tidak satu suara Membalas,hanya mati dibeku udara Dalam hatiku terbujur keinginan Juga tidak bernyawa Mimpi yang penghabisan minta tenaga Patah kapak,sia-sia berdaya Dalam cekikan hati ku Terdampar

.. Menginyam abu dan debu Dari tinggalannya suatu lagu Ingatan pada ajal yang menghantu Dan demam yang nanti membikin kaku
.. Pena dan penyair keduanya mati, Berpalingan! Tabel 3 Analisis pada puisi Nocturno a. Majas Pada puisi Chairi Anwar berjudul “Nocturno” terdapat beberapa kalimat bermajas antara lain - Hanya mati dibeku udara  Merupakan majas personifikasi artinya, apa yang dikatakan tidak didengar orang lain. - Patah kapak, sia-sia berdaya,Dalam cekikan hatiku Merupakan majas hiperbola artinya, bertahan pada perasaan yang sakit hanya perbuatan yang sia-sia. - Menginyam abu dan debu Merupakan majas metafora artinya, bertahan lama tanpa hasil yang pasti. b. Citraan - Citraan pendengaran Tapi tidak suatu suara membalas - Citraan perabaanMimpi yang penghabisan tenaga minta tenaga - Citraan gerak Terdampar
. - Citraan pemikiran Ingatan pada ajal yang menghantu - Citraan penglihatan Pena dan penyair keduanya mati Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 45 - Citraan pengecapan Menginyam abu dan debu Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang dapat dikaji dari berbagai aspek, diantaranya dari struktur dan unsur yang membangun puisi, serta dari tinjauan kesejarahannya. Menurut Dale & Warriner dalam Pradopo,1985 104 bahwa majas merupakan bahasa yang dipergunakan yaitu bahasa kiasan untuk meningkatkan dan memperbanyak efek melalui cara memperbandingkan dan memperkenalkan suatu benda dengan yang lain atau hal yang lebih umum. Hal ini dikarenakan , pengunaan pendek kata majas sehingga merubah nilai rasa atau menimbulkan konotasi tertentu. Adapun menurut Keraf 1988 bahwa majas yaitu bagaimana cara seseorang mengungkapkan pikirannya lewat bahas yang dimilikinya secara khas sehingga dapat diperlihatkan melalui kepribadian dan jiwa pengarang pemakaian bahas. . “Citraan merupakan kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan khayalan atau imajinasi” Kosasih, 2008 33. Artinya, imajinasi yang dimiliki pembaca seolah-olah dapat merangsang pemikirannya sehingga pembaca dapat merasakan, mendengar, atau melihat sesuatu yang diungkapkan oleh penyair. Citraan atau pengimajian merupakan susunan kata berdasarkan apa yang dilihat, didengar, maupun dirasakan penyair dengan menggunakan pancaindra. Permasalahan citraan pada hakikatnya tidak bisa terlepas dari permasalahan pemilihan kata diksi. Dalam buku kumpulan puisi berjudul “Deru Campur Debu” karya Chairil Anwar dari tiga puisi yang saya analisis memiliki berbagai macam majas dan citraan yang terkandung didalamnya. Dari teori Nurgiyantoro sebelumnya yang menyatakan bahwa puisi memiliki makna yang konkret itu benar apalagi setelah kita mengetahui majas dan citraan yang terkandung, tentu akan lebih mudah dalam pemahaman dan pembacaannya. Analisis Majas dan Citraan Pada Kumpulan Puisi Deru Campur Debu berjudul “Kawanku dan Aku, Sajak Putih dan Nocturno”. SIMPULAN Karya sastra tercipta karena adanya inisiatif pengarang dalam menciptakan karya dalam bentuk ide dan gagasan yang kreatif. Dari penelitian ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa didalam ketiga puisi didalam buku kumpulan puisi Deru Campur Debu tersebut mengandung berbagai macam majas yaitu majas personifikasi, metafora, hiperbola, alegori dan mengandung berbagai macam citraan yaitu Citraan pendengaran, perabaan, gerak, pengecapan, pemikiran, dan penglihatan. Permasalahan citraan pada hakikatnya tidak bisa terlepas dari permasalahan pemilihan kata diksi. Dengan adanya diksi atau pilihan kata yang tepat tentu akan menimbulkan daya khayal pembaca terhadap suatu hal yang sedang dibacanya. Namun sebaliknya, penggunaan diksi yang tidak tepat tidak akan dapat membuat pembaca berimajinas seoah-olah merasakan apa yang dirasakan penyair, karena pada umumnya citraan dalam puisi digunakan penyair untuk memperkuat gambaran pemikiran pembaca. Selain menganalisis majas dan citraan bias dilakukan penelitian baru mengenai analisis makna leksikal dalam puisi. DAFTAR PUSTAKA Agan, S., Pd, M., Sempu, D., Sasongko, D., Pd, M., Studi, P., Bahasa, P., & Sastra, D. A. N. 2017. Kajian Struktur Fisik pada Kumpulan Puisi Melihat Api Bekerja Karya M Aan Mansyur An Analysis of Poetry Entitled Seeing Fire Works by M Aan Mansyur Oleh Ley Faunani Susilo Dibimbing oleh SURAT PERNYATAAN ARTIKEL SKRIPSI TAHUN 2017. 0101. Ahsin, dkk. 2017. Struktur batin puisi Jumari HS dalam antologi puisi tentang jejak yang hilang. Jurnal Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 46 Pendidikan Bahasa Indonesia, 5 2, [online]. Diakses dari pbs Alby, H. M., & Keguruan, F. 2021. Analisis Struktur dan Nilai Sosial dalam Antologi PuisiMenjadi Dongeng Karya Mukti Sutarman Espe Structure and Social Analysis in MuktiSutarman Espe ’ s Antology of Poetry Menjadi Dongeng. 74– Ardiansyah, N., Sabri, Y., Sudrajat, R. T., Muslim, F., & Aprian, R. S. 2018. Analisis nilai religius dalam film negeri 5 menara yang diadaptasi dari novel Ahmad Fuadi. Parole Damono, Sapardi Djoko. 2017. Ayatayat Api. Jakarta PT Gramedia Pustaka Utama. Dibia, I. K. 2018. Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Depok PT. Raja Grafindo Persada. Espe, 2019. Kumpulan Puisi Menjadi Dongeng Karya Mukti Sutarman Espe. Buku Kumpulan Puisi Mukti Sutarman Espe Fadhilatun, H. 2017. Analisis Diksi dan Citraan dalam Kumpulan Puisi Anak Majalah BoboTahun 2016. Jurnal Kelasa, 122, 213–226. F, Y. A. 2018. Structur And Stereotype In Short Story “Selamat Pagi, Tuan Menteri” Karya Radhar Panca Dahana. JLER Journal of Language Education Research, 1, 1. Humaira, M. A. 2018. KARYA SONI FARID MAULANA. 2. Juwati. 2017. Diksi dan gaya bahasa puisipuisi kontemporer karya Sutardji Calzoum Bachri sebuah kajian stilistik. Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran KIBASP, 11. Kadarshi, Sri. 2017. Penggunaan Gaya Bahasa Dalam Kumpulan Puisi Ballada OrangOrang Tercinta Karya Rendra. Skripsi Tidak Diterbitkan. Palu Universitas Tadulako Maryatin, M. 2018. Penggunaan Gaya Bahasa Personifikasi dalam Kumpulan Puisi Karya Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Balikpapan. Stilistika Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra M. Aris, M. A., Zahar, E., & Sujoko, S. 2019. Citraan Dalam Kumpulan Puisi Ayat-Ayat Api Karya Sapardi Djoko Damono. Aksara Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 31, 56. Marsela, N. R., Sumiharti, S., & Wahyuni, U. 2018. Analisis Citraan Dalam Antologi Puisi Rumah Cinta Karya Penyair Jambi. Aksara Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 22, 57. Nuraeni, P. 2019. Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Menulis Kreatif Puisi dengan Media Rahayu, I. S. 2021. Analisis Kajian Semiotika dalam Puisi Chairil Anwar Menggunakan Teori Charles Sanders Peirce. Jurnal Semiotika, 151, 30–36. Setia, Budi, Prihadi., Firmansyah, Dida. 2019. Analisis Semiotika Pada Puisi “Barangkali Karena Bulan” Karya WS. Rendra. Parole Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2 2, 269-271 Suciati, M., Mulyono, T., & Khotimah, K. 2020. Citraan Dalam Kumpulan Puisi Dongeng-Dongeng Yang Tak Utuh Karya Boy Candra Dan Implikasinya. Jurnal Skripta, 62. Jurnal Suluh Pendidikan JSP, Vol 10, No 2, September 2022 P ISSN 23562596 E-ISSN 27147037 47 Yuhdi. 2022. Bahan Ajar Penulisan Akademik. Medan Universitas Negeri Medan Janie Gracella DauJulius Sandino KelyEva Dwi KurniawanPenelitian ini membahas tentang penggunaan gaya bahasa atau majas dalam puisi karya Rendra yang berjudul “Aku Tulis Pamplet Ini”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Analisis data dilakukan dengan membaca keseluruhan puisi, mencatat larik puisi yang menggunakan majas, kemudian menarik kesimpulan dari hasil analisis terhadap data yang ada. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa puisi “Aku Tulis Pamplet Ini” menggunakan majas personifikasi, simile, alegori, antitesis, retorik, repetisi, dan eksklamasio di Citraan Dalam Antologi Puisi Rumah Cinta Karya Penyair Jambi. Aksara Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra IndonesiaN R MarselaS SumihartiU WahyuniMarsela, N. R., Sumiharti, S., & Wahyuni, U. 2018. Analisis Citraan Dalam Antologi Puisi Rumah Cinta Karya Penyair Jambi. Aksara Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 22, 57. 3 Nuraeni, P. 2019. Peningkatan Kemampuan Siswa dalam Menulis Kreatif Puisi dengan Media Rahayu, I. S. 2021. Analisis Kajian Semiotika dalam Puisi Chairil Anwar Menggunakan Teori Charles Sanders Peirce. Jurnal Semiotika, 151, Semiotika Pada PuisiSetiaPrihadi BudiDida FirmansyahSetia, Budi, Prihadi., Firmansyah, Dida. 2019. Analisis Semiotika Pada Puisi "Barangkali Karena Bulan" Karya WS. Rendra. Parole Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2 2, 269-271 ï»żKAJIAN HEURISTIK DAN HERMENEUTIK TERHADAP KUMPULAN PUISI DERU CAMPUR DEBU KARYA CHAIRIL ANWAR Andina Muchti Universitas Bina Darma, Jl. Ahmad Yani No. 12 Plaju Palembang E-mail [email protected] Abstract All of the literature studies are related to the activity of interpretation. One of literature types that can be interpreted is poetry. To interpret a poem can involve the role of heuristics and hermeneutics concept. This study used several poems contained in the book of poetry Deru Campur Debu by Chairil Anwar. The problems of this study, namely 1 How do heuristic and hermeneutic reading on the poem of Chairil Anwar, and 2 What are the meaning of language and literature contained in the poem of Chairil Anwar. Heuristic and hermeneutic readings are the method to analyze literary works by using semiotic approach. Semiotics is a term that refers to the same thing that is the sign science. The relationship between signifier and signified included, icons, indices, and symbols. The results of this study are as follows 1. In the sixth poems of Chairil Anwar always brings the themes of freedom, rebellion and adventure that are the expression of Chairil's characteristic himself. 2. The unpleasant experience of dating with Hayati made him upset and dreaming of a lover who was very different from Hayati. therefore, Chairil express it with harsh words to describe the regret. Keywords heuristic, hermeneutic, Deru Campur Debu 1. PENDAHULUAN massa, majalah dan surat kabar yang sangat Karya sastra merupakan refleksi dari dekat dan akrab dengan masyarakat. berbagai fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Keberadaannya merupakan Waluyo 197828 mengatakan, karya sastra puisi mempunyai struktur yang suatu hal yang penting dan sudah menjadi berbeda dengan keseharian dalam masyarakat, baik itu Penciptaannya menggunakan prinsip-prinsip sebagai kebutuhan maupun hanya sekadar tertentu, seperti prinsip pemadatan atau hiburan. Terdapat berbagai bentuk karya pengonsentrasian bentuk dan makna. Untuk sastra, mulai dari prosa, drama, dan puisi. itu, Aminuddin 2002110 berpendapat, Puisi termasuk salah satu jenis karya sastra dalam yang tidak hanya ditempatkan secara khusus terutama puisi, kesulitan yang biasa muncul tetapi dapat pula dijumpai dalam media adalah dalam upaya memahami maknanya. upaya bentuk memahami teks prosa. sastra, Semua kajian sastra dengan suatu aktivitas, berkaitan yaitu aktivitas Berhasil penafsir atau tidaknya seorang mencapai taraf interpretasi yang interpretasi penafsiran. Kegiatan apresiasi optimal, sangat bergantung pada kecermatan sastra pada awal dan akhirnya, bersangkutan dan ketajaman interpreter itu sendiri. Selain dengan itu, dibutuhkan metode pemahaman yang karya diinterpreatasi sastra dan yang harus dimaknai. Semua memadai; metode pemahaman yang kegiatan kajian sastra, terutama dalam mendukung merupakan satu syarat yang prosesnya pasti melibatkan peranan konsep harus dimiliki interpreter. Dari beberapa heuristik dan hermeneutik. Oleh karena itu, alternatif yang ditawarkan para ahli sastra heuristik dan hermeneutik menjadi hal yang dalam memahami karya sastra, metode tidak mungkin diabaikan. pemahaman heuristik dan hermeneutik dapat Pradopo 2005124-129 menyatakan salah satu konvensi ketidaklangsungan sastra ekspresi tentang menurut dipandang sebagai metode yang paling memadai. Dalam analisis puisi menggunakan Riffaterre yang dijabarkan dengan metode pembacaan pembacaan hermeneutik. penelitian ini menggunakan beberapa puisi Pembacaan heuristik adalah pembacaan yang terdapat dalam buku kumpulan puisi puisi berdasar pada konvensi bahasanya, Deru Campur Debu Karya Chairil Anwar. heuristik dan heuristik dan hermeneutik, sedangkan pembacaan hermeneutik adalah Sajak-sajak karya Chairil Anwar pembacaan puisi berdasar pada konvensi dipilih sebagai objek pembacaan heuristik sastranya. dan hermeneutik karena sajak-sajaknya perlu Dalam hubungannya, tahap pertama merupakan ekspresi diri dan mencerminkan disadari kehidupan penulisnyaa. bahwa interpretasi dan pemaknaan tidak diarahkan pada suatu Berdasarkan latar belakang yang proses yang hanya sampai pada permukaan telah dikemukakan di atas, permasalahan karya sastra, tetapi juga yang mampu penelitian ini dapat dirumuskan sebagai "sampai berikut. di kedalaman makna" yang 1 Bagaimanakah pembacaan terkandung di dalamnya. Untuk itu, seorang heuristik dan hermeneutik pada puisi karya penafsir memiliki Chairil Anwar, dan 2 Apa saja makna wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang bahasa dan makna sastra yang terkandung cukup luas dan mendalam. dalam puisi karya Chairil Anwar. seyogiannya harus Teeuw 199759 mengemukakan definisi tentang sastra, yaitu suatu karya penanda signifier/signifiant dan petanda signified/signifiĂ©. yang menghendaki kreativitas. Karya sastra Pradopo 1993121 juga dimaksud dengan itu karya yang bersifat imajinatif, yaitu menjelaskan, bahwa karya sastra itu terjadi akibat penanda penganganan dan hasil penganganan itu merupakan bentuk tanda sedangkan petanda adalah penemuan-penemuan baru, kemudian adalah yang ditandai, yang merupakan arti penemuan baru itu disusun ke dalam suatu tanda. Hal itu dapat dicontohkan sebagai sistem dengan kekuatan imajinasi hingga berikut satuan bunyi ibu’ merupakan tanda terciptalah yang menandai arti orang yang melahirkan suatu dunia baru yang adalah yang menandai, yang kita’. Jadi, satuan bunyi ibu’ adalah sebelumnya belum ada. Puisi yang merupakan sebuah bentuk penanda sedangkan arti dari satuan bunyi karya sastra yang paling tua. Seorang ibu’, yaitu orang yang melahirkan kita penyair telah mengonsentrasikan segala adalah petanda. kekuatan bahasa dan gagasannya untuk menghasilkan sebuah puisi Waluyo 19873. Hubungan petanda ada antara tiga penanda macam, dan yaitu a. Ikonmerupakan tanda yang menunjukkan Pembacaan heuristik dan adanya hubungan yang bersifat alamiah hermeneutik merupakan salah satu metode antara petanda dan penandanya. Hubungan untuk menganalisis karya sastra dalam itu adalah hubungan persamaan, misalnya pendekatan semiotik. gambar kuda sebagai penanda yang Semiotik, semiotika dan semiologi menandai kuda petanda sebagai artinya; adalah satu istilah yang merujuk pada satu potret menandai sesuatu atau seseorang yang hal yang sama, yaitu ilmu mengenai tanda. dipotret; gambar pohon menandai pohon, b. Pradopo lndeks, yaitu tanda yang menunjukkan 2005119 menyatakan, yang dimaksud dengan tanda adalah fenomena hubungan sosial/masyarakat dan kebudayaan. penanda dan petandanya, misalnya asap Berbicara mengenai tanda bahasa, Saussure dalam Pradopo 2005119 menandai kausal api; sebab-akibat alat penanda antara angin menunjukkan arah angin dan sebagainya,c. menyebutkan ada dua aspek penting yang Simbol, yaitutanda yang menunjukkan menjadi bagian dari tanda bahasa itu, yaitu bahwa tidak ada hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya, hubungannya dalam pengertian yang sesungguhnya dari bersifat arbritrer semaumaunya. Arti itu maksud ditentukan menghasilkan pemahaman makna secara oleh konvensi Pradopo 2005120. bahasa. Kerja heuristik harfiah, makna tersurat, actual meaning Untuk dapat memberikan makna Nurgiyantoro, 2007 33. puisi secara semiotik, pertama kali dapat Hermeneutik adalah proses dilakukan dengan pembacaan heuristik dan penguraian yang berangkat dari isi dan Hermeneutik. makna Heuristik merupakan langkah untuk menemukan makna melalui yang terlihat tersembunyi. Objek ke arah makna interpretasi dalam pengkajian pengertian yang luas, dapat berupa simbol struktur bahasa dengan mengintrepetasikan dalam mimpi atau bahkan mitos-mitos dari teks sastra secara referensial lewat tanda- simbol tanda linguistik. Langkah ini berasumsi Palmer 200348. dalam masyarakat atau sastra bahwa bahasa bersifat referensial, artinya Riffaterre dalam Pradopo 200597 bahasa harus dihubungkan dengan hal-hal mengemukakan bahwa dalam pembacaan nyata. hermeneutik, Pembacaan heuristik adalah sajak dibaca berdasarkan konvensi-konvensi sastra menurut sistem pembacaan berdasarkan struktur bahasanya. semiotik. Untuk memperjelas arti, bila perlu, pembaca memberikan memberi sisipan kata atau sinonim kata yang konvensi diletakkan dalam tanda kurung. Begitu juga, deskripsi puisi yang disebabkan oleh struktur kalimatnya disesuaikan dengan penggantian arti, penyimpangan arti, dan kalimat baku berdasarkan tata bahasa penciptaan arti. normatif; a. atau bila perlu susunan Konvensi makna makna itu yang di antaranya ketidaklangsungan ucapan Penggantian arti dalam karya sastra kalimatnya dibalik untuk memperjelas arti disebabkan oleh bahasa kiasan, antara Pradopo 2005136. lain Menurut Riffaterre dalam Wellek metafora, perbandingan, dan Warren, 1989 148 analisis secara sinekdoki, heuristik adalah analisis pemberian makna alegori. berdasarkan struktur konvensional, artinya bahasa bahasa secara dianalisis metonimi, b. simile personifikasi, perbandingan epos dan Riffaterre dalam Pradopo 2005125 mengemukakan, penyimpangan arti disebabkan oleh tiga hal, yaitu 2. METODOLOGI PENELITIAN ambiguitas, kontradiksi dan nonsense. c. Penciptaan Arti Riffaterre mengatakan Metode penelitian ini membahas terjadi penciptaan arti bila ruang teks mengenai pendekatan penelitian, data dan spasi teks berlaku sebagai prinsip sumber data, teknik penyediaan data serta pengorganisasian teknik analisis data. untuk membuat hal-hal Pendekatan yang dilakukan dalam sesungguhnya penelitian ini adalah pendekatan deskriptif secara linguistik tidak ada artinya, kualitatif dan pendekatan semiotik. Subroto misalnya simitri keseimbangan berupa 199270 mengutarakan bahwa penelitian kesejajaran arti antara baris-baris dalam kualitatif itu bersifat deskriptif. Peneliti bait, rima pengulangan bunyi dalam mencatat dengan teliti dan cermat data yang puisi untuk membentuk musikalitas berwujud kata-kata, kalimat dan wacana. atau orkestrasi Waluyo 198790 Pendekatan semiotik adalah pendekatan tanda-tanda keluar ketatabahasaan dari yang Palmer 2003 14-16 menyebutkan penelitian yang menggunakan metode- bahwa akar kata hermeneutik berasal dari metode semiotik, dalam hal ini adalah istilah Yunani dari kata kerja hermeneuein, pembacaan heuristik dan hermeneutik. yang berarti “menafsirkan”, dan kata benda hermeneia, “interpretasi”. Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan puisi Deru Hermeneutik merupakan pembacaan Campur Debu karya Chairil Anwar. bolak-balik melalui teks dari awal hingga akhir. Tahap pembacaan ini merupakan Penerapan Heuristik dan Hermeneutik interpretasi Heuristik retroaktif yang melibatkan banyak kode di Dalam menerapkan luar bahasa dan menggabungkannya secara menghiraukan integratif dapat kesempurnaan teks atau kondisi gramatikal. guna Sehingga membongkar tahap kedua sampai secara yang bersifat pembaca struktural Heuristik kelengkapan apresiator dapat tidak atau menambah mengungkapkan makna singificance dalam ataupun mengurangi bentuk gramatikal yang sistem tertinggi, yakni makna keseluruhan ada teks sebagai sistem tanda. terkandung dalam teks karya sastra itu guna sendiri. menemukan makna yang sebagai berikut si aku memberi harapan kepada Hermeneutik Langkah-langkah penerapan Hermeneutik gadis si aku bila ingin kembali boleh saja. Si aku adalah dengan mengkaji makna melalui menerima sepenuh hati bila gadis itu mau pembacaan yang berulang-ulang dengan kembali lagi pada kehidupan si aku. Si aku tidak meramalkan makna yang terkandung secara tersirat pada karya sastra itu sendiri dengan menggunakan segenap pengetahuan yang dimiliki. mencari gadis lain sebagai pendamping hidupnya karena masih menunggu kepulangan kekasihnya. Si aku masih sendiri tidak akan mencari yang lain dan tetap menunggu walaupun sudah mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sudah 3. HASIL Hasil tidak perawan lagi atau sudah selingkuh dengan Analisis pada Puisi “Penerimaan” karya Chairil Anwar PENERIMAAN laki-laki lain. Itu digambarkan dengan kalimat” Kutahu kau bukan yang dulu lagi bak kembang sari sudah terbagi”. ini menggunakan metafora- Kalau kau mau kuterima kau kembali metafora yang sangat indah dangan Dengan sepenuh hati menggambarkan perempuan yang tidak perawan Aku masih tetap sendiri dengan kembang sari sudah terbagi. Si aku memberi harapan kepada gadis si Kutahu kau bukan yang dulu lagi aku bila ingin kembali tidak usah malu dan Bak kembang sari sudah terbagi harus mau menemui si aku. Tidak usah takut untuk menemui si aku. Si aku pun tetap Jangan tunduk! Tentang aku dengan menerima apapun yang sudah terjadi dan berani menerima dengan mutak jangan mendua lagi, bahkan bercermin pun si aku enggan berbagi. Kalau kau mau kuterima kembali Digambarkan dalam bait ke-5 yan berbunyi Untukku sendiri tapi “Sedangkan dengan cermin aku enggan berbagi”. Dalam kalimat ini menggunakan Sedang dengan cermin aku enggan citraan penglihatan berbagi. Deru Campur Debu,195936 Hasil Analisis pada Puisi ”Sajak Putih” Karya Chairil Anwar Dalam sajak”Penerimaan” karya Chairil Anwar merupakan ungkapan perasaan yang dirasakan oleh penyair. Puisi itu dapat dianalisis SAJAK PUTIH menggambarkan sesuatu yang indah dan Bersandar pada tari warna pelangi menarik . biasanya mawar itu berwarna Kau depanku bertudung sutra senja merah yang menggambarka cinta dan melati Di hitam matamu kembang mawar dan putih menggambarkan kesucian. Jadi dalam melati mata si gadis tampak cinta yang tulus, Harum rambutmu mengalun bergelut menarik, dan mengikat. Suasana pada saat senda itu bsangat menyenangkan, menarik,m penuh keindahan yang memduat si aku haru Sepi menyanyi, malam dalam mendoa dengan semua itu. tiba Dalam pertemuan ke dua insan itu Meriak muka air kolam jiwa sepi menyanyi, malam dalam doa tiba yang Dan dalam dadaku memerdu lagu menggambarka tidak ada percakapan dari Menarik menari seluruh aku keduanya. Mereka hanya dian tanpa ada sepatah kata yang diucapkan seperti hanya Hidup dari hidupku, pintu terbuka ketika waktu berdoa. Hanya kata hati yang Selama matamu bagiku menengadah berkata dan tidak keluar suara. Kesepian itu Selama kau darah mengalir dari luka mengakibatkan jiwa si aku bergerak seperti Antara kita Mati datang tidak hanya permukaan kolam yang terisa air yang membelah... beriak tertiup angin. Dalam keadaan diam Dalam puisi sajak putih dgamberkan tanpa kata itu, didalam dada si aku gdis ai aku pada suatu senja hari yang indah terdengar lagu ia duduk dihadapan si aku. Ia besandar yang yang merdu yang menggambarkan kegembiraan. Rasa pada saat itu ada warna pelangi yaitu langit kegembiraan digambarkan dengan senja yang indah penuh dengan macam- menari seluruh aku. itu macam warna. Gadis itu bertudun g sutra Hidup dari hidupku, pintu terbuka diwaktu haru sudah senja. Sedangkan menggambarkan bahwa si aku merasa rambut gadis itu yang harum ditiup angin hidupnya penuh dengan kemungkinan dan tampak seperti sedang bersenda gurau, dan ada jalan keluar serta masih ada harapan yna dalam mata gadis yang hitam kelihatan pasti bunga mawar dan melati yang mekar. kekasihnya masih menengadahkan mukanya Mawar ke si aku. Ini merupakan kiasan bahwa si dan melati yang mekar bisa diwujudkan selam gadis gadis masih mencintai s aku, mau Antara kita Mati datang tidak memandang kemuka si aku, bahkan juga membelah
.. isyarat untuk mencium dario si aku. Bila diucapkan secara normatif, maka Keduanya masih bermesraan dan saling ekspresifitasnya hilang karena tidak padat mencintai. dan tidak berirama. “Pintu akan selalu Begitu juga hidup si aku penuh terbuka bagi hidup dan hidupku. Selama harapan selama si gadis masih hidup wajar, matamu menengadah bagiku. Selama darah dikiaskan dengan darahnya yang masih masih mengalir jika engkau terluka. Antara mengalir dan luka, sampai kematioan tiba kita sampai kematian datang kita tidak pun keduanya masih mencintai, dan tidak membelahberpisah. akan terpisahkan. Sajak merupakan kiasan pengertian abstrak dapat menjadi kongret suara hati si penyair, suara hati si aku. Putih karena digunakan citraan-citraan dan gerak mengiaskan yang digabung dengan metafora. ketulusa kejujuran, dsan keihklasan. Jadi sajak putih berarti suara hati si aku yang sangat tulus dan jujur. Rasa Dalam sayangnya sajak itu ini juga digambarkan dalam puisi Chairil Anwar untuk yang berjudul “Penerimaan”. Dalam puisi kegembiraan dan kebahagiaan di dalam itu digambarkan bahwa si aku masih bisa sajak ini adalah kata tari, warna pelangi, menerima si gadis yang telah berselingkuh sutra senja, memerdu l;agu, menari-neri, dengan orang lain. Si aku menerima dengan pintu terbuka. Jadi, sajak ini bersuasana rasa penuh keihklasan dari si gadis yang gembira. Namun biasanya sajak Chairil telah mau kembali kepelukannya. Terlalu Anwar bersuasana murung, suram dan sedih. sayangnya si aku, si aku menerima dengan Puisi tidak hanya menyampaikan informasi lapang saja, namun diperlukan kepadatan dan diperbuat oleh si gadis dengan orang lain. Tanda-tanda semiotik ekspresifitas, karena hanya inti pernyataan dada tentang apa yang telah Dalam puisi “Sajak Putih” banyak “Tari digunakan sajak warna pelangi” merupakan bahasa kiasan penyimpangan dari tata bahasa normatif seperti bahasa-bahasi kiasan. yang dikemukakan. Karena hal ini, maka personifikasi yang menggambarkan benda Hidup dari hidupku, pintu terbuka mati dapat digambarkan seolah-olah hidup. “ Selama matamu bagiku menengadah rambutmu mengalun bergelut sernda” juga Selama kau darah mengalir dari luka menggunakan bahasa kiasan personifikasi. Selain itu ada kesamaan dalam penggunaan selamat jalan citraan-citraan agar mempunyai makna yang dari pantai keempat, sedu kongret, penghabisan bisa terdekap serta menggunakan metafora- Dalam puisi ”Senja di Pelabuhan Kecil” metafora. diatas, Hasil Analisis Puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” Karya Chairil Anwar terasa bahwa penyair sedang dicengkeram perasaan sedih yang teramat dalam. Tetapi seperti pada puisi-puisi Chairil Anwar yang lain, kesedihan yang diungkapkan SENJA DI PELABUHAN KECIL tidak memberikan kesan cengeng atau sentimental. Dalam kesedihan yang amat dalam, penyair ini tetap tegar. Demikian pula pada Ini kali tidak ada yang mencari cinta puisinya diatas. Di dalamnya tak satu pun kata di antara gudang, rumah tua, pada ”sedih” diucapkannya, tetapi ia mampu berucap cerita tentang kesedihan yang dirasakannya. Pembaca tiang serta temali. Kapal, perahu dibawanya untuk turut erta melihat tepi laut tiada berlaut dengan gudang-gudang dan rumah-rumah yang menghembus diri dalam telah tua. Kapal dan perahu yang tertambat mempercaya mau berpaut disana. Hari menjelang malam disertai gerimis. Kelepak burung elang terdengar jauh. Gambaran Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang tentang pantai ini sudah bercerita tentang suatu yang muram, di sana seseorang berjalan seorang diri tanpa harapan, tanpa cinta, berjalan menyusur semenanjung. Satu ciri khas puisi-puisi Chairil Anwar menemu bujuk pangkal akanan. adalah kekuatan yang ada pada pilihan kata- Tidak bergerak katanya. Seperti juga pada puisi diatas, setiap dan kini tanah dan air tidur hilang kata mampu menimbulkan imajinasi yang kuat, ombak. dan membangkitkan kesan yang berbeda-beda bagi penikmatnya. Pada puisi diatas sang Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian penyair berhasil menghidupkan suasana, dengan gambaran yang hidup, ini disebabkan bahasa yang dipakainya mengandung suatu kekuatan, tenaga, sehingga memancarakan rasa haru yang dalam. Inilah kehebatan Chairil Anwar, dengan kata-kata yang biasa mampu menghidupkan itu gerimas yang menambah rasa kesedihan dari imajinasi kita. Judul puisi tersebut, telah si aku. membawa kita pada suatu situasi yang khusus. Kata senja berkonotasi pada suasana yang remang pada pergantian petang dan malam, Hasil Analisis Puisi “Cintaku Jauh di Pulau” Karya Chairil Anwar tanpa hiruk pikuk orang bekerja. Pada bagian lain, gerimis mempercepat CINTAKU JAUH DI PULAU kelam, kata kelam sengaja dipilihnya, karena terasa lebih indah kata gelap walaupun dan sama dalam daripada artinya. Setelah kalimat itu ditulisnya, ada juga kelepak elang Cintaku jauh di pulau, gadis manis, sekarang iseng sendiri menyinggung muram, yang berbicara tentang kemuraman sang penyair saat itu. Untuk Perahu melancar, bulan memancar, mengungkapkan bahwa hari-hari telah berlalu di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar. dan angin membantu, laut terang, tapi terasa berganti dengan masa mendatang, diucapkan dengan kata-kata penuh daya desir aku tidak 'kan sampai padanya. hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Penggambaran malam yang semakin gelap dan air laut yang tenang, disajikan dengan kata-kata yang sarat akan makna, yakni dan kini tanah dan air hilang ombak. Puisi Chairil Anwar ini hebat dalam pilihan kata, disertai Di air yang tenang, di angin mendayu, di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertahta, sambil berkata "Tujukan perahu ke pangkuanku saja," ritme yang aps dan permainan bunyi yang semakin menunjang keindahan puisi ini, yang Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh! dapat kita rasakan pada bunyi-bunyi akhir yang Perahu yang bersama 'kan merapuh! ada pada tiap larik. Mengapa Ajal memanggil dulu Di dalam puisi ini juga digambarkan Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! rasa cinta namun dalam bentuk kesedihan yang mendalam yang dialami oleh si aku namun si Manisku jauh di pulau, aku tetap tegar menghadapinya. Si aku dalam kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri. keadaan muram , penuh kegelisahan, dan tidak sempurna dengan kehidupannya. Si aku sedang mancari cintanya yang hilang. Suasana pada saat Dalam kegiatan menganalisis arti, kita berusaha memberi makna pada bunyi, suku kata, kata, kelompok kata, kalimat, setelah ia meninggal, kekasihnya itupun bait, dan pada akhirnya makna seluruh puisi. akan mati juga dalam penantian yang sia-sia. Bait I “Cintaku jauh di pulau” Setelah kita menganalisis makna tiap bait, berarti. Kekasih tokoh aku gadis manis kita pun harus sampai pada makna lambang berada di suatu tempat yang jauh. “Gadis yang diemban oleh puisi tersebut. Kekasih manis sekarang iseng sendiri” artinya sang tokoh aku adalah kiasan dari cita-cita si aku kekasih tersebut adalah seorang gadis yang yang sukar dicapai. Untuk meraihnya si aku manis yang menghabiskan waktu sendirian harus iseng tanpa kehadiran tohoh aku. melambangkan mengarungi lautan perjuangan. yang Sayang, Pada bait II, si tokoh aku menempuh usahanya tidak berhasil karena kematian perjalanan jauh dengan perahu karena ingin telah menjemputnya sebelum ia meraih cita- menjumpai citanya. atau menemui kekasihnya. Ketika itu cuaca sangat bagus dan malam Dalam puisi tersebut terasa perasaan- ketika bulan bersinar, namun hati si aku perasaan si aku senang, gelisah, kecewa, merasa gundah karena rasanya ia tak akan dan putus asa. Kecuali itu ada unsur sampai pada kekasihnya. metafisis yang menyebabkan pembaca Bait III menceritakan perasaan si aku berkontemplasi. Dalam puisi di atas, unsur yang semakin sedih karena walaupun air metafisis tersebut berupa ketragisan hidup terang, pada manusia, yaitu meskipun segala usaha telah perasaannya ajal telah memanggilnya Ajal dilakukan disertai sarana yang cukup, bertahta sambil berkata “Tujukan perahu bahkan segalanya berjalan lancar, namun ke pangkuanku saja”. manusia seringkali tak dapat mencapai apa angin mendayu, tetapi Bait IV menunjukkan si aku putus yang diidam-idamkannya karena maut telah asa. Demi menjumpai kekasihnya ia telah menghadang bertahun-tahun berlayar, bahkan perahu demikian, yang membawanya akan rusak, namun menggairahkan akan sia-sia belaka. ternyata mengakhiri kematian hidupnya menghadang terlebih lebih cita-cita dahulu. yang Dengan hebat dan dan Dalam puisi ini juga menggunakan dahulu citraan-citraan. Hal itu terdapat dalam sebelum ia bertemu dengan kekasihnya. “Perahu melancar, bulan memancar,”. Bait V merupakan kekhawatiran si Citraan yang digunakan adalah citraan tokoh aku tentang kekasihnya, bahwa penglihatan karena perahu melancar dan bulan memancar hanya bisa dilihat. Jadi citraannya adalah citraan penglihatan. Citraan visual digunakan dalam “Ajal bertakhta, sambil berkata "Tujukan perahu ke pangkuanku saja," .... Mengapa Ajal memanggil dulu 
 Hasil Analisis Puisi “Kesempurnaan” Karya Chairil Anwar KUSANGKA Kusangka cempaka kembang setangakai Teryata melur telah diseri....... Hatiku remuk mengenangka ini Wasangka dan was-was silih berganti. Kuharap cempaka baharu kembang Belum tahu sinar matahari....... Rupanya teratai patah kelopak Dihinggapi kumbang berpuluh kali. Kupohonkan cempaka Harum mula terserak....... Melati yang ada Pandai tergeletak....... Mimpiku seroja terapung di paya Teratai putih awan angkasa...... Rupanya mawar mengandung lumpur Kaca piring bunga renungan...... Igauanku subuh, impianku malam Kuntum cempaka putih bersih...... Kulihat kumbang keliling berlagu Kelopakmu terbuka menerima cembu. Kusangka hauri bertudung lingkup Bulu mata menyangga panah Asmara Rupanya merpati jangan dipetik Kalau dipetik menguku segera Buah Rindu, 195919 Sajak Chairil Anwar merupakan penyimpangan terhadap konsep estetik Amir Hamzah yang masih meneruskan konsep estetik sastra lama. Pandangan romantik Amir Hamzah ditentang dengan pendangan realistiknya. Sajak “Kusangaka” mennjukkan kesejajaran gagasan yang digambarkan dalam enam sajak tersebut. Amir Hamzah menggunakan ekspresi romantik secara metaforis-alegoris, membandingkan gadis dengan bunga. Pada bait terakhir dimetamorkan sebagai bidadari hauri dan merpati. Dari keenam bait tersebut disimpulkan bahwa si aku mencintai gadis yang disangka murni, tetapi ternyata sesungguhnya sudah tidak murni lagi. Sudah dijamah oleh pemuda lain/ suda tidak perawan lagi Rupanya teratai patah kelopak/Dihinggapi kumbang berpuluh kali’. Kulihat kumbang keliling berlagu/kelopakmu terbuka menerima cembu’. Hal itu menimbulkan kekeewaan dan menyebabkan hati si aku remuk. Wasangka dan was-was silih bergantibait 1. Dengan demikian, si aku tidak mau bersama gadis yang sudahtidak murni lagi, sebab akan terkena kuku “merpati” itu bait 7. Gadis yang masih murni disangka murni diumpamakan cempaka kembangbait 1, baharu kembang belum terkena sinar mataharibait 2, cempaka harumbait 3, seroja terapung di paya putih seperti awanbait 4, dan seperti bidadari hauri bertudung lingkup yang bulu matanya menambah panah asmarabait 6. Gambaran tersebut bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya yang sangat menyakitkan basi si aku dan sangat kecewa setelah mengetahui kisah yang sebenarnya. Gambaran gadis tersebut sudah tidak murni lagi diumpamakan melur telah diseribait 1, teratai patah kelopak dihingapi kumbang berpuluh kalibait 2, merpati yang pandai bergelakbait 3, mawar yang mengandung lumpurbait 4, dan merpati yang mengaku segerabait 6. Jadi yang menanggapi masalah tersebut si aku merasa kecewa karena pikiran romantik bahwa gadis yang dicintainya itu harus masih murni dan tetap murni, setia pada si aku, tidak boleh menerima cinta orang lain, namun kenyataan berlainan. Tidak sesuai dengan keinginan si aku. Sikap romantik digambarkan dengan bahasa yang indah, mengambil objek dari alam sebagai perumpamaan, sehingga seperti natural. Sebaliknya Chairil Anwar, dalam sajaknya itu menampilkan tampak yang lain dalam mendiskripsikan atau menanggapi gadis yang sudah tidak murni lagi. Sangat berlawanan dengan apa yang ditampilkan oleh Amir Hamzah. Ia berpandangan realistik, si aku au menerima kembali wanitakekasihnya, istrinya yang barang kali telah berselingkuh dengan laki-laki lain. Si aku mau menerima kembali asal mau kembali kepada si aku tanpa da rasa curiga. Si aku masih sendiri, tidak mencari wanita lain sebagai pasangan hidupnya karena masih menunggu kembalinya wanita yang dicintainya itu. Si aku mengetahui bahwa gadis yang dicintainya sudah tidak murni lag, sudah seperti bunga yang sarinya terbagi, yaitu sudah dihinggapi kumbang lain. Wanita itu jika ingin mau diterima kembali harus berani bertemu dengan si aku dan jangan malu untuk menemui si aku. Digambarkan “Djangan tunduk! Tantang aku dengan berani”. Si aku pun tetap menerima dengan sepenuh hati walaupun wanita itu sudah tidak perawan lagi. Chairil Anwar membandingkan wanita dengan bungakembang. Wanita yang sudah tidak murni digambarkan sebagai bunga yang sarinya sudah terbag ibak kembang sari yang sudah terbagi. Ini hampir sama dengn perumpamaan yang dilakukan Amir Hamzah “Rupanya teratai patah kelopak/dihinggapi kumbang berpuluh kali dan kulihat kumbang keliling berlaga”. Sedangkan Chairil Anwar ”Kutau kau bukan yang dulu lagi/ bak kembang sari sudah terbagi”. Numun Chairil Anwar tetap menggunakan bahasa keseharian dalam pengungkapan dan menggunakan gaya eksresif yang padat. 4. KESIMPULAN Dalam memahami suatu karya sastra, kita bisa menggunakan metode pemahaman heuristik dan hermeneutik. Metode pemahaman heuristik merupakan langkah untuk menemukan pengkajian makna melalui bahasa dengan struktur mengintrepetasikan teks sastra secara referensial lewat tanda-tanda linguistik, sehingga menghasilkan pemahaman makna secara harfiah. Sedangkan metode pemahaman interpretasi merupakan Anwar, dapat disimpulkan hal-hal sebagai yang bersifat berikut 1. Dalam keenam puisinya Chairil hermeneutik tahap kedua retroaktif yang melibatkan banyak kode di Anwar luar bahasa dan menggabungkannya secara kebebasan, pemberontakan dan petualangan integratif sampai membongkar secara pembaca dapat struktural guna mengungkapkan makna singificance dalam sistem tertinggi, yakni makna keseluruhan teks sebagai sistem tanda. selalu menghadirkan tema-tema yang merupakan ekspresi dari sifat-sifat Chairil itu sendiri. 2. Pengalaman masa pacaran dengan Hayati yang tidak menyenangkan karena Hayati pergi dan selingkuh dengan pria lain membuatnya marah dan memimpikan seorang Sehingga kekasih yang sangat berbeda dari hayati. pembaca dapat memhami karya sastra secara Sehingga Chairil mengekspresikannya dengan menyeluruh dan mendalam. kata-kata Dari hasil pembacaan heuristik dan kasar untuk menggambarkan kekesalannya itu. hermeneutik kumpulan Puisi karya Chairil DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. BandungSinar Baru Algensindo. Delatour, Y. dkk. 1991. Grammaire du Français. ParisHachette. Dubois, Jean dkk. 2001. Dictionnaire de Linguistique. ParisLarousse-Bordas. Husen, Ida Sundari. 2001. Mengenal Pengarang-Pengarang Prancis dari Abad ke Abad. JakartaGrasindo. Kardjo, Wing. 1975. Sajak-Sajak Modern Prancis dalam Dua Bahasa. JakartaPustaka Jaya. Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta Gramedia Pustaka Utama. Palmer, Richard E. 2003. Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi Diterjemahkan oleh Musnur Henry dan Damanhuri Muhammad. YogyakartaPustaka Pelajar Offset. Paz, Octavia. 2002. Puisi dan Esai Pradopo, Rachmat Djoko. 1976. Pengkajian Puisi. YogyakartaGadjah Mada University Press. ________ 1993. Prinsip Kritik Sastra. YogyakartaGadjah Mada University Press. _______ 2005. Beberapa Teori Sastra, Metode, Kritik dan Penerapannya. YogyakartaPustaka Pelajar. Subroto, Edi. 1992. Pengantor Metoda Peneltitan Linguistik Strukiural. SurakartaSebe1as Maret University Press. Sudjiman, Panuti & Aart Van Zoest. 1992. Serba-Serbi Semiotika. JakartaGramedia Pustaka Utama. Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. JakartaGramedia. Tirtawirya, Putu Arya. 1978. Aprestasi Puisi dan Prosa. JakaraNusa lndah. Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. SurakartaErlangga. Puisi Chairil Anwar ini, saya temukan pada buku kumpulan puisi yang berjudul "Deru Campur Debu". Buku yang saya baca ini merupakan buku cetakan keenam tahun 2016 dari Penerbit Dian Rakyat. Awalnya, saya tidak menyangka bisa menemukan kumpulan-kumpulan puisi Chairil Anwar dalam sebuah buku yang ada di perpustakaan sekolah. Sungguh, kalau dulu saat sekola SMP/SMA hanya menemukan cukilan-cukilan puisi dalam buku paket Bahasa Indonesia atau saat dibacakan oleh guru Bahasa Indonesia saat itu. Kemudahan dalam mengakses informasi, menjadi keuntungan tersendiri. Tidak usah menunggu lama atau mencari ceceran-ceceran puisi Chairil Anwar, tetapi langsung dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul "Deru Campur Debu". Dalam kumpulan puisi "Deru campur Debu" tersebut ada 27 puisi plus 1 buah Tulisan Chairil Anwar. Sayang sekali saya kesulitan dalam membaca tulisan Chairil Anwar tersebut. Puisi-puisi yang ada dalam kumpulan buku "Deru Campur Debu" adalah sebagai berikut Aku Hampa Selamat Tinggal Orang Berdua Sia-Sia Doa Isa Kepada Peminta-minta Kesabaran Sajak Putih Kawanku dan Aku Kepada Kawan Sebuah Kamar Lagu Siul Malam di Pegunungan Catetan Th. 1946 Nocturno Kepada Pelukis Affandi Buah Album Cerita Buat Dien Tamaela Penerimaan Kepada Penyair Bohon Senja di Pelabuhan Kecil Kabar dari Laut Tuti Artic Sorga Cintaku Jauh di Pulau Tulisan Chairil Anwar Dari ke-28 judul itu ada beberapa yang sudah saya kenal ketika SMP/SMA yaitu Aku yang begitu legendaris, puisi Doa, Kepada Peminta-Minta, Cerita Buat Dien Tamaela, serta Senja di Pelabuhan Kecil. Sedangkan judul-judul puisi Chairil Anwar yang lain baru kenal beberapa waktu kemarin. Ternyata ada puisi yang sangat pendek, tidak sebanding judulnya. Puisi yang saya maksud berjudul Malam di Pegunungan, yang berbunyi sebagai berikut. Malam di Pegunungan Aku berpikir Bulan inikah yang membikin dingin, Jadi pucat rumah dan kaku pepohonan? Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan! Coba baca dan cermati puisi Chairil Anwar di atas. Saya kira puisi itu bicara tentang seseorang yang merasakan kesepian di pegunungan. Sendirian. Beku. Mati..dan seterusnya. Ternyata....jauh dari bayangan saya. Aku berpikir Bulan inikah yang membikin dingin. Maksudnya..apakah Chairil Anwar bertanya pada bulan ataukah "bulan" yang tidak dijelaskan sedang terang benderang atau redup, bulat penuh atau separuh bahkan seperempat sebagai penyeban malam di pegunungan menjadi dingin. Masa iya membuat rumah menjadi pucat dan pepohonan menjadi kaku. Ketika digambarkan bulannya bulan pucat, atau tidak terang boleh jadi rumah pun menjadi pucat. Tetapi apa hubungannya dengan kekakuan pepohonan? Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan! Apakah dalam bayangan Chairil Anwar, pegunungan tersebut sebagai sebuah desa atau setidaknya dekat dengan desa, sehingga ditemukan anak kecil. Kayaknya ndak deh, hanya ada seorang anak kecil yang bermain sendirian di pegunungan... Entahlah...Begitulah mungkin imajinasi seorang penyair. Seorang Chairil Anwar yang dengan ide-idenya yang diluar persangkaan orang biasa.

makna puisi deru campur debu