KisahYang Menakjubkan Tentang Ikhlash. Gambar dari Pixabay. Ibnul Mubarak rahimahullah menceritakan kisahnya: “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Al-Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. KisahInspiratif tentang Big Rocks. Pesan Moral yang dapat kita ambil dari kisah ini bahwa kita harus memiliki prioritas dalam hidup. HOME; DAFTAR ISI; KISAH INSPIRATIF; KATA BIJAK; GAMBAR; Home. Batu. first. ikhlas. inspirasi kisah. Kayu. Kerikil. kerja keras. kisah inspirasi hidup. kisah inspirasi kerja. Kisah Inspiratif. kisah penuh Setelahlulus dari SMP PGRI 6 Bandung, kedua anak itu memutuskan untuk lanjut ke jenjang SMA. Dedikasi seorang guru untuk mencerdaskan muridnya sangat terasa ketika JPNN berbincang dengan Yoni. Di KisahInspiratif Tentang Kejujuran. Dimana keluarga tersebut hidup dengan banyak cobaan tetapi tetap ikhlas menjalankannya. Keluarga miskin ini sedang kehabisan persediaan makanan dan tidak memiliki uang. Untuk membeli persediaan makanan keluarga tersebut menjual radio usang di pasar. Radio tersebut terjual dengan harga 20 ribu karena Videofilm : Film inspiratif tentang taat dan hormat terhadap orang tua dan guru G. Sumber Belajar 1. Al-Qur’anul Karim 2. Buku peserta didik :Muhammad Ahsan, Sumiyati, dan Mustahdi, 2017, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas IX (Edisi Revisi 2017), Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 3. Situs internet ni1Vs. Terkadang keikhlasan hanya bisa diukur oleh rasa. Karena mudah sekali bilang ikhlas tetapi hati masih merasa bimbang. Mari kita belajar dari kisah inspiratif tentang ikhlas berikut ini yang dibagi dalam tiga cerita. Ada kalanya untuk memahami sebuah rasa kita lebih mudah melalui cerita daripada nasihat orang bijak. Yang pertama kita akan menyimak sebuah kisah inspiratif tentang ikhlas dalam berkarya. Kedua cerita tentang menjadi orang ajaib melalui keikhlasan, dan yang ketiga cerita tentang ikhlas dengan perumpaan ubi dan kambing. Kisah Inspiratif Tentang Ikhlas Dalam Berkarya Siapa yang tidak kenal dengan kitab ­Matan al-Ajurumiah atau biasa cukup disebut Jurumiyah? Salah satu kitab nahwu yang sangat populer dalam dunia pendidikan, khususnya pesantren. Kitab sederhana dan ringkas ini menjadi pelajaran pokok di hampir semua pondok pesantren. Penjelasannya tidak terlalu luas dan lebar, akan tetapi manfaat dan berkah di dalamnya sangat banyak. Bahkan, orang-orang yang hendak bisa baca kitab kuning, terlebih dahulu mempelajari kitab ini. Luasnya manfaat dan banyaknya keberkahan kitab Jurumiyah tidak lepas dari peran penulis yang begitu ikhlas ketika menulis. Ia berupaya menghilangkan manusia dalam benak pikirannya dan murni menjadikan Allah sebagai tujuannya. Ia tidak membutuhkan pujian maupun tepuk tangan dari orang lain, yang ia inginkan hanyalah ridha dari Allah swt. Penulisnya adalah Syekh Shanhaji. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Ajurrum as-Shanhaji. Beliau dilahirkan di kota Fes, Maroko, tahun 672 H, dan wafat pada tahun 723 H. Namanya dikenang sepanjang masa disebabkan karyanya yang sangat sederhana namun ada keikhlasan di dalamnya, sehingga karyanya terus berlanjut dan dipelajari oleh umat Islam. Imam Kafrawi dalam Syarah kitab Jurumiyah, menyebutkan perihal keikhlasan Syekh Shanhaji ketika menulis kitabnya. Menurutnya, ketika Syekh Shanhaji hendak menulis kitabnya, ia menghadap kiblat dan memohon kepada Allah untuk memberikan manfaat dan keberkahan di dalam karyanya. Ketika beliau berhasil merampungkannya, beliau justru membuang kitab yang sudah ditulisnya ke tengah lautan, kemudian berkata, “Apabila kitab ini murni ikhlas semata karena Allah swt, maka tentu tidak akan basah” Imam Kafrawi, Syarah al-Ajurumiyah, [Maktabah al-Hidayah, Surabaya], h. 27. Atas izin Allah dan berkat keikhlasan Syekh Shanhaji dalam beramal, kitab Ajurumiyah yang ditulisnya tidak basah sedikit pun, bahkan banyaknya air di samudera tidak membekas pada kitab tersebut. Ajurumiyah tetap utuh sebagaimana sebelum dilempar pada lautan. Masyaallah. Kisah Inspiratif Tentang Ikhlas Menjadi Orang Ajaib Dalam sebuah cerita, Rasulullah SAW pernah mengisahkan sebuah kisah tentang seseorang atau si fulan yang bersedekah 3 kali namun 3 kali salah memberikan sedekahnya. Si Fulan berdo’a memohon petunjuk kepada Allah SWT. “Ya Allah, tunjukkan kepada saya seseorang yang berhak menerima sedekah.” Hari pertama, si fulan bersedekah pada seorang laki-laki. Namun, esok harinya orang-orang gempar membicarakan jika “semalam ada pencuri yang mendapat sedekah”. Mendengar hal itu, si fulan bersedih karena merasa Ia telah salah sasaran dalam bersedekah. Kemudian si Fulan berdo’a, memohon petunjuk kepada Allah SWT. “Ya Allah, tunjukkan kepada saya seseorang yang berhak menerima sedekah.” Dikemudian hari, si Fulan bersedekah kepada seorang perempuan. Namun, esok harinya orang-orang kembali gempar membicarakan jika “semalam ada pezina mendapat sedekah”. Mendengar hal itu, si Fulan kembali merasa bersalah dan bersedih karena telah salah sasaran lagi dalam memberi sedekah. Si Fulan tetap ingin bersedekah, sedekah ketiga kalinya ia tidak tahu jika ternyata yang diberi sedekah adalah orang kaya. Hingga malam harinya, kembali digemparkan orang-orang yang membicarakannya jika “semalam ada orang kaya yang mendapat sedekah”. Si Fulan kembali bersedih, karena tiga kali bersedekah merasa telah salah sasaran dalam memberi sedekah. Ia merasa bahwa Allah SWT tidak mengabulkan keinginannya untuk bersedekah pada orang yang berhak menerima sedekah. Malam keempat setelah si Fulan melakukan sedekah, ia bermimpi bertemu malaikat. Dalam mimpinya tersebut, Malaikat menyampaikan jika sedekahnya diterima oleh Allah SWT. “Ya Fulan, sedekahmu yang pertama Allah terima. Lewat sedekahmu, kamu telah menghalanginya untuk mencuri karena sudah mendapatkan harta darimu.” “Sedekahmu yang kedua, Allah terima. Karena lewat sedekahmu telah menghalangi seseorang dari berzina. Karena dia sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan sehingga dia tidak perlu berzina.” “Sedekahmu yang ketiga Allah terima juga, karena berkat sedekahmu pada orang kaya, kamu telah menyadarkan orang kaya yang kikir menjadi orang kaya yang dermawan.” Inilah yang dinamakan keberkahan dari niat baik penuh keikhlasan dalam melakukan amal kebaikan. Salah satunya dalam hal bersedekah. Kisah di atas juga merupakan penjelasan dari hadits arba’in yang ke satu, yang berbunyi “innamal a’malu bin niyat…” Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Jika niat kita benar, ikhtiar beramal sholih dengan tulus dan ikhlas, meskipun ternyata kita keliru. Allah SWT tetap memberi kita pahala sesuai dengan niat yang benar tersebut. Allah SWT tidak melihat penampilan seseorang dari tampilan luarnya saja. Allah SWT tidak melihat perbuatan seseorang dari yang tampak saja, melainkan Allah SWT melihat setiap orang dari isi hatinya. Kisah Inspiratif Tentang Ikhlas Dari Ubi dan Kambing Di suatu pondok yang sederhana, hiduplah seorang guru tua dengan istrinya. Sang guru sudah puluhan tahun mengajar di sebuah sekolah yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Guru ini sangat baik hati dan dihormati oleh murid-muridnya. Suatu hari, seorang mantan muridnya datang ke rumahnya. Ia membawa seikat ubi yang diamanahkan oleh ayahnya sebagai oleh-oleh pada sang guru. “Pak guru, saya membawa ubi. Hanya ini yang saya dan keluarga punya untuk membalas kebaikan bapak,” ujarnya. Melihat muridnya yang lugu dan tulus, sang guru tersentuh. “Kok repot-repot, Nak? Duduk di sini dulu ya. Kamu pasti capek jauh-jauh dari desa bawa ubi. Bapak ke belakang dulu,” ujar sang guru. Pria paruh baya itu pun berjalan ke belakang dan menemui istrinya. “Bu, kita punya apa? Ini muridku bawa ubi,” kata pria itu. Sang istri melihat ke dapurnya. Tidak ada apa-apa selain alat masak, bumbu dapur dan air minum. “Punya apa kita, Pak? Wong kita cuma punya kambing peliharaan bapak itu di belakang,” jawab istrinya. Guru itu pun mengangguk-angguk, “Oo.. Ya sudah ini ubinya disimpan. Buatkan muridku minum ya, Bu. Kita kasih kambing saja,” kata pria itu. Istrinya mengangguk dan membuatkan teh hangat untuk muridnya. Sementara pria itu mengambil kambing peliharaannya. “Ini, Nak. Bawa pulang, ya? Bilang terima kasih pada bapakmu,” kata pria itu. Muridnya terkejut, tapi ia sangat berterima kasih pada gurunya yang memang baik hati itu. Tak lama, ia pun pulang dari pondok gurunya. Di jalan, murid ini bertemu dengan temannya. Teman tersebut bertanya dari mana ia mendapat kambing. Murid yang lugu itupun menceritakan bagaimana ia membawa ubi hingga dapat kambing. Mendengar cerita itu, murid yang satu ini tergiur mendapat pemberian yang sama dari gurunya. Ia pun segera pulang dan menceritakan kejadian itu pada ayahnya. Sang ayah yang juga tergiur berkata, “Wah, mungkin kalau kamu bawa kambing, nanti kamu akan diberi sapi, Nak.” Begitu pikir ayah dan anak ini. Kalau mereka memberi yang besar, maka mereka akan menerima yang lebih besar lagi. Maka, sore itu pergilah murid yang satu ini membawa kambing ke rumah gurunya. Sang guru kaget, baru saja ia memberi kambing pada muridnya, sekarang ia menerima kambing lain yang menggantikan kambingnya. Maka buru-buru ia menemui istrinya, “Istriku, kita dapat kambing lagi. Alhamdulillah. Kita cuma punya ubi, ya? Ya sudah berikan saja ubinya untuk muridku,” ujarnya. Maka sang guru keluar membawa 3 ikat ubi yang diberikan murid pertamanya tadi. Melihat apa yang diberikan gurunya, murid kedua ini terkejut. Antara agak kecewa dan harus tetap senyum di depan gurunya. Maka ia pun pulang dengan membawa 3 ikat ubi, bukan sapi seperti yang dia harapkan. Dari kisah inspiratif di atas bisa kita mengambil hikmah dari bagaimana dampak dari sebuah niat. Murid pertama memang berniat untuk mengunjungi gurunya, sedangkan murid kedua berkunjung agar mendapatkan sapi. Hikmah yang bisa kita petik dari ketiga kisah inspiratif tentang ikhlas di atas adalah keikhlasan yang bersumber dari dalam hati, bukan lagi untuk mencari pujian, mendapatkan pahala, ataupun berharap balas budi dari orang lain. Ibarat gelas yang bocor, keikhlasan yang tidak dilandasi dengan niat dari hati karena mengharap ridho Allah SWT semata, maka seberapa banyak pun gelas diisi akan tetap kosong. Maka janganlah jadikah hidup kita seperti gelas yang bocor dan jangan jadi orang yang punya niat ingin mendapat balas budi seperti kisah inspiratif tentang ikhlas yang ketiga. Sumber Hajar protes karena suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang masih kecil di padang pasir tak bertuan. Seperti jamaknya dia hanya bisa menduga bahwa ini akibat kecemburuan Sarah, istri pertama suaminya yang belum juga bisa memberi mengejar Ibrahim, suaminya, dan berteriak, “Mengapa engkau tega meninggalkan kami di sini? Bagaimana kami bisa bertahan hidup?” Ibrahim terus melangkah meninggalkan keduanya, tanpa menoleh, tanpa memperlihatkan air matanya yang meleleh. Remuk redam perasaannya terjepit antara pengabdian dan masih terus mengejar sambil menggendong Ismail, kali ini dia setengah menjerit, dan jeritannya menembus langit, “Apakah ini perintah Tuhanmu?”Kali ini Ibrahim, sang khalilullah, berhenti melangkah. Dunia seolah berhenti berputar. Malaikat yang menyaksikan peristiwa itu pun turut terdiam menanti jawaban Ibrahim. Butir pasir seolah terpaku kaku. Angin seolah berhenti mendesah. Pertanyaan, atau lebih tepatnya gugatan Hajar membuat semua membalik tubuhnya, dan berkata tegas, “Iya!”.Hajar berhenti mengejar. Dia terdiam. Lantas meluncurlah kata-kata dari bibirnya, yang memgagetkan semuanya malaikat, butir pasir dan angin, “Jikalau ini perintah dari Tuhanmu, pergilah, tinggalkan kami di sini. Jangan khawatir. Tuhan akan menjaga kami.”Ibrahim pun beranjak pergi. Dilema itu punah sudah. Ini sebuah pengabdian, atas nama perintah, bukan sebuah pembiaran. Peristiwa Hajar dan Ibrahim ini adalah romantisme ikhlas. Ikhlas adalah wujud sebuah keyakinan mutlak pada Sang Maha Mutlak. Ikhlas adalah kepasrahan bukan mengalah apalagi menyerah kalah. Ikhlas itu adalah engkau sanggup berlari melawan dan mengejar, namun engkau memilh patuh dan adalah sebuah kekuatan menundukkan diri sendiri dari semua yang engkau cintai. Ikhlas adalah memilih jalan-Nya, bukan karena engkau terpojok tak punya jalan lain. Ikhlas bukan lari dari kenyataan. Ikhlas bukan karena bukan merasionalisasi tindakan, bukan mengalkulasi hasil akhir. Ikhlas tak pernah berhitung. Ikhlas tak pernah pula menepuk dada. Ikhlas itu tangga menujuNya. Ikhlas itu mendengar perintahNya dan menaatiNya. Ikhlas adalah ikhlas. Titik.“Belum cukupkah engkau memahami apa itu ikhlas dari diamnya Hajar dan perginya Ibrahim?”Dan aku, kamu, serta kita, semuanya tertunduk pasrah bersama Malaikat, butir pasir dan a’ ini sebelumnya telah tayang di Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya ibadah. Bahkan para ulama mengatakan, ruhnya amal adalah ikhlas. Dalam Kitab Al-Hikam, Syeikh Ibnu Atho'illah As-Sakandari wafat 1309, menceritakan salah satu akhlak mulia Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam SAW. Beliau mengajarkan hakikat ikhlas yang begitu suatu hari saat Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan beberapa sahabatnya. Datanglah seorang perempuan kafir membawa beberapa biji buah jeruk sebagai hadiah. Rasulullah menerimanya dengan senyuman gembira. Lalu mulailah jeruk itu dimakan oleh Rasulullah SAW dengan tersenyum. Sebiji demi sebiji hingga habislah semua jeruk tersebut. Maka ketika perempuan itu meminta izin untuk pulang, maka salah seorang sahabat segera bertanya mengapa tidak sedikit pun Rasulullah menyisakan jeruk tadi untuk sahabat lainnya. Rasulullah SAW pun menjawab "Tahukah kamu, sebenarnya buah jeruk itu terlalu asam sewaktu Aku merasakannya pertama kali. Kalau kalian ikut makan, Aku takut ada di antara kalian yang akan mengernyitkan dahi atau memarahi perempuan tersebut. Aku takut hatinya akan tersinggung. Sebab itu Aku habiskan semuanya."Akhlak yang agung seperti ini tidak dapat dipoles di permukaan, tetapi semata-mata karena ada cahaya ikhlas yang sudah tertanam di dalam hati. Sikap dan perilaku adalah cerminan hati. Dalam sebuah Hadits Qudsi, Rasulullah SAW bersabda"Aku pernah bertanya kepada Jibril tentang ikhlas. Lalu Jibril berkata, 'Aku telah menanyakan hal itu kepada Allah', lalu Allah berfirman, 'Ikhlas adalah salah satu dari rahasiaku, yang Aku berikan ke dalam hati orang-orang yang kucintai dari kalangan hamba-hamba-Ku". Kata Syeikh Ibnu Atho'illah, tidak ada amal-amal yang agung dapat tegak kecuali Allah telah menanamkan cahaya ikhlas yang dapat menghidupkan amalnya. Amal adalah geraknya badan lahir atau hati. Amal itu digambarkan sebagai tubuh jasad. Sedangkan ikhlas itu sebagai ruhnya. Badan tanpa ruh berarti mati. Allah Ta'ala berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan ikhlas kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus. Al-Bayyinah 5. Di ayat lain, "Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan ikhlas kepada-Nya. Az-Zumar 2.Ikhlas itu bertingkat sesuai perbedaan orang yang beramal. Pertama, keikhlasan orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah adalah bersih dari pada riya' yang nampak maupun yang tersembunyi. Tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-Nya, dan supaya diselamatkan dari keikhlasan orang-orang yang cinta kepada Allah. Ia beramal hanya karena mengagungkan Allah, karena hanya Allah Dzat yang wajib diagungkan, bukan karena pahala atau selamat dari siksa neraka. Perempuan sufi Robi'ah al-'Adawiyyah pernah bermunajat kepada Allah "Ya Allah, aku beribadah kepadamu bukan karena takut nerakamu, dan juga tidak karena cinta dengan surgamu." Ketiga, keikhlasan orang-orang yang sudah ma'rifat mengenal kepada Allah. Mereka selalu melihat kepada Allah, gerak dan diamnya badan dan hatinya itu semua atas kehendak Allah. Mereka tidak merasa kalau bisa beramal, kecuali diberi pertolongan oleh Allah, tidak sebab daya kekuatan dirinya sendiri. Wallahu A'lam bisshowab.rhs JAKARTA - Imam Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik, atau dikenal dengan sebutan Imam Qusyairi wafat 465 H dalam kitab tafsirnya memposisikan ikhlas sebagai landasan dari segala ibadah. Menurutnya, tanpa keikhlasan, semua amal ibadah atau amal shaleh tidak bisa diterima oleh Allah, dan hanya menjadi pekerjaan yang tidak membawa manfaat bagi orang yang mengerjakannya. Dalam kitbanya Lathaif al-Isyarat, Imam Qusyairi mengartikan ikhlas sebagai upaya memposisikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan dan tulus melakukan segala amal kebaikan hanya untuk Allah SWT. Dengan keikhlasan, semua amal ibadah akan lebih sempurna dan lebih besar kemungkinan untuk diterima oleh-Nya. Ada sebuah kisah yang menerangkan pentingnya keikhlasan dalam melakukan segala sesuatu. Kisah ini berawal pada masa Imam Malik bin Anas, tepatnya ketika dia berupaya mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah dalam satu kitab yang kini dikenal sebagai kitab Muwattha’. Inspirasi itu datang karena pada masanya, tidak banyak ulama yang berusaha mengumpulkan hadits dalam satu kitab khusus. Niat ini pertama kali dicetuskan oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur yang saat itu bertemu dengan Imam Malik dan melihat hafalan dan penjelasan beliau yang kuat tentang hadits Rasulullah. Khalifah pun memohon agar sang imam berkenan menuliskan kitab khusus yang berisi hadits-hadits Rasulullah. Namun Imam tidak langsung mengiyakan permintaan Abu Ja’far, karena menurutnya setiap orang memiliki metode dan cara masing-masing untuk mengetahui dan memahami hadits Rasulullah, sehingga tidak pantas jika hanya membatasi dengan pemahaman dari persepsinya saja. Namun akhirnya, Imam Malik mencoba mengakomodasikan hadits-hadits Rasulullah yang dia ketahui menjadi satu sembari mencari hadits lain yang beliau dia ketahui. Di sela-sela perjuangannya, mulai bermunculan orang-orang yang mengomentasi usahanya bahkan ingin menyainginya, kebanyakan dari mereka hanya ingin mendapatkan pujian dari khalifah atau masyarakat. Berbeda dengan Imam Malik yang tulus dan ikhlas mengumpulkan hadits Rasulullah tanpa ada niatan untuk mendapatkan pujian dari pihak mana pun. BACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini Ikhtisar Ikhlas adalah salah satu buah dari tauhid yang sempurna kepada Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Ikhlas adalah soal Tauhid. Soal keyakinan, soal kepercayaan. Yakin dan percaya akan seruan Allah dan Rasul-Nya. Yakin dan percaya akan Janji-Janji Allah. Yang lain menyebut “tidak ikhlas,” saya lebih memilih menyebut “saking percayanya sama Allah lalu saya melakukannya.” Yang lain menyebutnya “tidak ikhlas,” saya lebih memilih menyebutnya “berharap sama Allah.” Dan yang lain menyebutnya sebagai pamrih atas ibadah-ibadah yang dilakukan karena dunia, saya lebih kepengen meyakininya sebagai sebuah keutamaan jalan sebab yang memberikan petunjuk adalah Yang Memiliki Dunia yang juga menyuruh kita beribadah. Ikhlas juga mencakup semua ketaatan, ikhlas juga meliputi semua yang Allah kasih kepada kita, ikhlas dalam cinta, dalam iman dan Islam. Agar Ibadah Kita Diterima-Nya Sesungguhnya Allah Swt hanya menerima IBADAH seorang hamba yang benar-benar memurnikan keikhlasan dalam amalnya tersebut, dan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya. Jika ada kadar 0,01 % kekotoran syirik dalam amalan tersebut, maka Allah tidak akan menerima amalan tersebut! jika amalan tersebut diamalkan tidak seperti apa yang Allah syari’atkan melalui Rasul-Nya, maka amalnya tertolak. Dalilnya, Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya Allah tidak menerima satu amalan kecuali dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya.” Dalam shalat kita membaca ayat dalam surah Al-Fatihah yang artinya, “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” Dan bukankah dalam shalat kita juga mengucapkan “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, semuanya hanya untuk Allah?” Tapi kenyataannya, sangat sulit merealisasikan ikhlas dalam setiap perbuatan kita. Niat segala perbuatan kita ternyata bukan lagi untuk mencari ridha Allah. Tapi niat kita adalah untuk mencapai kepentingan pribadi, dan kepentingan duniawi. Niat Ikhlas ini sering pula disusupi oleh sifat ujub dan riya’. Perbuatan kita lakukan untuk membanggakan diri, dan ingin dipuji oleh manusia. Ya, mencari ridha manusia. Saya sering menyebut tidak mengapa kita melakukan ibadah dan mengejar apa yang Allah janjikan. Ketika yang lain menamakan pamrih dan atau tidak ikhlas, saya menyebutnya Iman. Percaya. Karena saya percaya sama apa yang diseru Allah dan Rasul-Nya, lah ya saya kerjakan. Ketika Allah dan Rasul-Nya menyuruh dhuha agar rezeki terbuka, dan atau menjanjikan keutamaan dhuha bisa begini dan begitu, ya saya sambut. Saya kerjakan. Sepenuh hati. Ini juga namanya Ikhlas. Bahasa entengnya Nurut. Tunduk. Kita percaya sama Allah. Masa janji yang dijanjikan oleh Yang Maha Benar kita sia-siakan? Iya gak? Sambut, percaya, yakini, dan jalankan. Manteb. Pendahuluan / Prolog Pendahuluan Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan. Kami berlindung kepada Allah dari segala kejahatan nafsu dan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Swt, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang bisa diluruskannya. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah. Kunci diterimanya amal ibadah adalah harus ikhlas dalam menjalankan amal ibadah. Ikhlas merupakan tolok ukur atau kunci diterima tidaknya seseorang di dalam melaksanakan amal ibadah. Kata kunci ikhlas adalah melakukan segala sesuatu yang baik semata-mata hanya mengharap kepada Allah Swt saja tidak mengharap kepada selain Allah Swt. Hanya kepada Allah Swt yang dituju sehingga jika mendapat pujian dari seseorang atau tidak, tidak menjadikannya sombong atau lupa diri dan tidak kecewa karena yang dituju hanya Allah semata. Hatinya orang yang ikhlas pasti dijamin tenang tidak mudah terpengaruh oleh pujian atau celaan dari siapa saja baik dari kawan maupun lawan. Orang yang beramal ibadah dengan ikhlas walaupun capek tidak terasa capek bahkan terasa ringan karena yang dituju adalah Ridha-Nya semata. Dalam ajaran Islam diterima tidaknya amal ibadah seseorang bergantung pada niatnya. Jika niatnya salah yaitu tidak niat mengharap ridha-Nya maka akan berakibat amal ibadahnya tidak diterima oleh Allah Swt. Mengerjakan amal ibadah dengan ikhlas perlu kita jaga dengan baik dan berhati-hati, apabila tidak kita jaga dengan baik dan berhati-hati dalam beramal bisa dengan mudah amalan yang kita kerjakan menjadi amalan sia-sia di hadapan Allah Swt. Kita dalam beramal harus benar-benar murni mengharap ridha Allah Swt. Imam Ghazali pernah berkata bahwa setiap orang akan hancur binasa kecuali orang-orang yang berilmu ulama dan setiap orang yang berilmu akan hancur binasa kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya dan setiap orang yang mengamalkan ilmunya akan hancur binasa kecuali orang-orang yang ikhlas dalam beramal ibadah. Keikhlasan berada pada garis yang paling mulia.“ Ingatlah bahwa ikhlas kepada Allah Swt juga akan menyelamatkan badan dan jiwa dari semua derita! Pernyataan ini bukan sekadar bualan, melainkan sudah teruji dan terbukti pada orang-orang yang memiliki keutamaan dan kemuliaan, khususnya para Nabi, para sahabat Nabi, dan Tabi’in. Mereka telah mendapatkan kemenangan, keberuntungan, dan kesuksesan di dunia, begitu pula di akhirat. Untuk itu, buku ini sangat diperlukan untuk menjelaskan keutamaan dan bentuk-bentuk ikhlas, serta menjelaskan bahaya riya dan cara pencegahannya dan penjelasan-penjelasan lain yang bermanfaat. Buku ini didasarkan pada Al-Qur’an dan hadits-hadits yang kuat yang telah diteliti dan dikoreksi oleh para ahli hadits, tujuannya agar latar belakang penulisan buku ini benar-benar dapat dicapai. Semoga Allah menjadikan amal kami murni karena-Nya, dan semoga buku ini akan memberikan manfaat bagi kami pada hari kiamat dan akan melindungi kami pada hari orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Daftar Isi Pengantar Pengantar Ust. Yusuf Mansur Pendahuluan Daftar Isi BAB I - Ikhlas Kunci Utama Diterimanya Amal Ibadah A. Manisnya Ikhlas, Bahayanya Riya dan Syirik B. Ancaman dan Tipu Daya Setan C. Ikhlas Kunci Kesuksesan D. Kemenangan Nabi Yusuf As Adalah karena Keikhlasan E. Kisah Ikhlasnya Seorang Anak yang Beriman F. Kisah Ikhlasnya Nabi Ibrahim As dan Istrinya G. Amal Shalih yang Didasari Takut Kepada AllahMerupakan Salah Satu Implementasi Ikhlas H. Doa Orang yang Dizalimi dan Ditindas Mustajabah I. Manfaat Bergaul dengan Orang yang Ikhlas J. Keutamaan Ikhlas dalam Mengamalkan Ajaran Agama 1. Ikhlas dalam Bertauhid 2. Ikhlas dalam Niat 3. Ikhlas dalam Shalat 4. Ikhlas dalam Bersujud 5. Ikhlas dalam Menghiasi Malam Ramadhan 6. Ikhlas dalam Menghidupkan malam Lailatul Qadr 7. Ikhlas dalam Mencintai Masjid 8. Ikhlas dalam Perjalanan untuk Shalat 9. Ikhlas Menunggu Shalat Jamaah di Masjid 10. Ikhlas Menjawab Azan 11. Ikhlas dalam Berpuasa 12. Ikhlas dalam Mengeluarkan Zakat 13. Ikhlas dalam Bersedekah 14. Ikhlas dalam Menunaikan Ibadah Haji 15. Ikhlas Ingin Mati Syahid 16. Ikhlas dalam Ketetapan Hati 17. Ikhlas Siap untuk Berperang 18. Ikhlas dalam Berjihad 19. Ikhlas dalam Bertaubat 20. Ikhlas dalam Beristighfar 21. Ikhlas dalam Menangis 22. Ikhlas dalam Berzikir 23. Ikhlas dalam Kejujuran 24. Ikhlas dalam Bersabar 25. Ikhlas Dalam Bertawakkal 26. Ikhlas dalam Mencintai 27. Ikhlas dalam Bersilahturrahim di Jalan Allah 28. Ikhlas dalam Berbakti kepada Orangtua 29. Ikhlas dalam Meninggalkan Kemungkaran 30. Ikhlas dalam Memberikan Upah 31. Ikhlas dalam Niat Meskipun Belum Berbuat 32. Ikhlas dalam Berzuhud 33. Ikhlas Dalam Bertawadhu’ Rendah Hati 34. Ikhlas dalam Membangun Masjid 35. Ikhlas Berziarah ke Masjid Rasulullah Saw UntukBelajar dan Mengajar 36. Ikhlas dalam Menyiapkan Perang dan MemberikanTeladan 37. Ikhlas Mengantarkan Jenazah Muslim 38. Ikhlas dalam Memberikan Makanan 39. Ikhlas dalam Berdoa K. Keikhlasan Semu BAB II - Bahaya Riya, Mengetahui Penyebab dan Upaya Menghindarinya A. Bahasa tubuh Riya’ badani B. Perbuatan yang Nampaknya Syirik atau Riya, tetapiBukan C. Obat dan Upaya Menghindari Riya’ 1. Mengetahui keagungan Allah, nama-nama-Nya, sifatsifat-Nya, dan mengetahui keesaan-Nya sesuai dengankemampuannya 2. Mengetahui siksa dan kenikmatan alam kubur 3. Mengetahui Hadits-Hadits Tentang Siksa Kubur 4. Mengetahui Janji Allah Kepada Orang-Orang yangBertakwa di Surga 5. Mengingat Mati dan Bersikap Realistis 6. Mengetahui Hakikat Dunia dan Kefanaannya 7. Berdoa 8. Memunculkan Rasa Takut Akan Munculnya Riya’Setelah Beramal 9. Membiasakan Menyembunyikan Amal Baik Kecualidalam Keadaan Mendesak 10. Bersahabat dengan orang yang ikhlas, shalih danbertakwa 11. Takut Terhadap Riya’ 12. Menjauhi Celaan Allah 13. Ingin Dicintai Allah daripada Manusia 14. Mengetahui Apa Yang Ditakuti Setan D. Perbuatan yang Ditakuti Setan BAB III - Ikhlas dan Rahasia Kedahsyatannya A. Akibat-akibat Riya’ B. Beberapa Hadits Shahih Mengenai Ikhlas dan KecamanTerhadap Riya’ dari Kitab “at-Targhib wa at-Tarhib” C. Nasihat dan Kata Mutiara Yang Berkaitan dengan Ikhlas D. Kata Mutiara dari Orang-orang Salaf Mengenai Niat,Ikhlas dan Bahaya Riya’ E. Kisah Inspiratif Rahasia Kedahsyatan Ikhlas 1 Kisah Kakek dan Pencuri Pepaya 2 Kisah Nenek yang Ikhlas 3 Bekerja Ikhlas Menuai Hasil yang Baik 4 Belajarlah untuk Ikhlas 5 Buah Keikhlasan [Sebuah Kisah Nyata] 6 Kisah Menarik Dahsyatnya Ikhlas Sedekah 7 Kisah Inspiratif tentang “Ikhlas” 8 Kisah Cerdiknya Seorang Pemuda yang Ikhlas 9 Ikhlas Itu Indah 10 Kisah Teladan Orang-Orang Ikhlas Kutipan BAB 1 / Ikhlas, Kunci Utama Diterimanya Amal Ibadah Sebelum Anda melangkah untuk melakukan amal ibadah, Anda harus tahu terlebih dahulu cara yang efektif agar amal ibadah dapat diterima oleh Allah Swt. Jangan sampai Anda berlelah-lelah beribadah tetapi tidak memperoleh apa-apa. Ingatlah! Banyak orang yang berlelah- lelah melaksanakan amal ibadah, namun hasilnya nihil, malah di akhirat ia harus bersiap-siap menghadapi siksaan dari Allah Swt. Rasulullah Saw telah memperingatkan dalam hadits berikut ini “Banyak orang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar. Banyak orang bangun shalat malam, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali keterjagaan saja.” HR. Ibnu Majah. Untuk itu, Anda harus tahu terlebih dahulu syarat agar amal ibadah yang kita lakukan diterima di sisi Allah Swt. Setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi bila amal ibadah Anda diterima di sisi Allah Swt, yaitu Dalam melakukan amal ibadah yang dituju hanya ingin mencapai ridha Allah. Dalam melakukan amal ibadah harus mengikuti ketentuan yang telah diberikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah dalam sunnahnya. Apabila salah satu dari dua syarat tersebut tidak dipenuhi, maka amal ibadah Anda tidak dapat dikatakan sebagai amal shalih. Implikasinya, amal ibadah Anda tidak diterima oleh Allah Swt, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah berikut ini “Katakanlah Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendak-lah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” QS. Al-Kahfi 110 Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa Allah Swt hanya menerima “amal shalih” yang dilakukan dengan ikhlas hanya karena Allah Swt, bukan karena ada motivasi lain. Yang dimaksud “amal shalih” itu sendiri adalah semua amalan yang sesuai dengan ketentuan syara’. Syekh Al-Bani At-Tawassul anwa’uhu wa ahkamuhu. Al-Hafizh Ibn Katsir dalam tafsirnya juga menyebutkan bahwa ada dua syarat agar amal ibadah dapat diterima Allah Swt, yaitu perbuatannya dilakukan dengan ikhlas karena Allah, dan sejalan dengan syariat Allah dan Rasulullah, Muhammad Saw. Pendapat senada juga dikemukakan oleh al-Qadhi Iyadh dan ulama lainnya. A. Manisnya Ikhlas, Bahayanya Riya dan Syirik Setiap amal ibadah harus didahului dengan niat, sebagai-mana sabda Rasulullah Saw “Sesungguhnya seluruh amal ibadah bergantung pada niatnya.” Agar supaya niat memenuhi harapan, maka niat harus dilakukan dengan tulus ikhlas hanya karena Allah semata. Niat yang tidak ikhlas hanya akan membuat amal ibadah yang kita kerjakan sia-sia belaka. Allah hanya menerima amal ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, yaitu hanya mengharapkan ridha dari-Nya. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Swt berikut “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” QS. Al-Bayyinah 5 Juga dalam firman-Nya “Katakanlah “Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS. Ali Imran 29 Dalam ayat ini Allah melarang perbuatan riya memamerkan amal kepada selain Allah. Karena riya akan menghapus amal ibadah yang telah dilakukan seperti yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya “Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan Tuhan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” QS. Az-Zumar 65 Sikap riya sangat merugikan, karena riya dapat menghapus pahala orang yang melakukan amal ibadah. Untuk itu, dalam beberapa kesempatan kita dianjurkan senantiasa berdoa agar dijauhkan dari sifat riya, seperti doa ketika membaca talbiah yang diucapkan orang yang sedang menjalankan ibadah haji, sebagai berikut “Ya Allah jadikanlah haji kami haji yang tidak bercampur dengan sifat riya dan sum’ah.” HR. Adh-Dhiya dengan sanad yang shahih. Rasulullah Saw juga memberikan peringatan keras agar kita menghindari sifat riya, seperti yang tersebut dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah “Manusia pertama yang dihisab oleh Allah pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Kemudian Allah mendatanginya seraya menunjukkan pahala yang akan diperolehnya, maka tahulah dia pahala tersebut. Allah bertanya Apakah yang telah kamu perbuat? Dia menjawab, saya berperang hanya karena Engkau sampai saya mati syahid.’ Allah berkata, kamu telah berbohong, karena kamu berperang agar ada yang mengatakan, engkau pemberani!’, sebagaimana yang dikatakan orang. Kemudian Allah memerintahkan dia pergi seraya melemparkan amalnya ke mukanya sampai dia terlempar ke neraka. Kedua Kemudian orang yang menuntut imu kemudian mengajarkan ilmunya serta rajin membaca Al-Qur’an seraya menunjukkan nikmat-nikmat yang akan diterimanya, maka tahulah dia akan nikmat-nikmat itu. Allah bertanya, Apakah yang telah kamu perbuat?’ Dia menjawab, saya menuntut ilmu kemudian mengajarkannya dan saya rajin membaca Al-Qur’an karena Engkau.’ Allah menjawab, kamu berbohong, karena engkau belajar agar dikatakan kamu adalah orang yang pandai dan kamu membaca Al-Qur’an agar dikatakan kamu adalah Qari!’ Sebagaimana yang dikatakan orang. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya seraya melemparkan amalnya ke mukanya sampai dia terlempar ke neraka. Ketiga Kemudian orang yang diberi kelapangan rezeki oleh Allah dan dia menyisihkan sebagian untuk sedekah. Allah menghampirinya sambil menunjukkan pahala yang akan diterimanya, maka tahulah dia pahala tersebut. Allah bertanya, Apa yang telah kamu perbuat?’ Dia menjawab, saya tidak pernah meninggalkan jalan yang Engkau cintai dalam menafkahkan harta, kecuali saya menafkahkan sebagian harta tersebut hanya karena Engkau’. Allah menjawab, Kamu berbohong, karena kamu berbuat seperti itu supaya kamu dikatakan orang dermawan!’ Sebagaimana yang dikatakan orang. Kemudian Allah memerintahkan kepadanya seraya melemparkan amal tersebut ke mukanya sampai dia terlempar ke neraka.’ HR. Imam Muslim. Dan hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah Saw bersabda “Allah Swt berfirman Saya adalah sekutu yang paling tidak butuh dengan sekutu, barangsiapa beramal dengan menyekutukan Aku dengan selain Aku, maka Aku akan meninggalkan dia dan sekutunya.” HR. Imam Muslim Juga beliau Saw bersabda “Barangsiapa yang menuntut ilmu tidak karena mencari ridha Allah, maka dia hanya mendapat imbalan dunia, dia tidak mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” HR. Abu Daud.

kisah inspiratif tentang ikhlas